Klik Bila Perlu

Thursday, January 16, 2014

Vila Kupu-Kupu

Aku lupa persisnya kenapa tempat ini dinamai Vila Kupu-Kupu. Meskipun tak susah mencari penandanya; kupu-kupu menyambut kami di gerbang, kupu-kupu bertebaran di lantai, kupu-kupu menclok di puncak tangga, kupu-kupu di mana-mana. Kupu-kupu keramik? Iya. Jangan kecewa dulu. Kupu-kupu keramik ini berteman dengan kupu-kupu yang beterbangan di antara kamboja dan pakis di halaman. Tentu mereka tak enggan datang, tempat ini begitu sejuk, dikelilingi tetumbuhan dan keriuhan yang terdengar melulu suara binatang dan sungai yang mengalir di belakang rumah. Sempurna untuk sebuah tempat peristirahatan.

Tempat yang berlokasi di Dongkelan ini milik mas Bowo, teman mbak Rina. Mumpung mbak Rina dan teh Ina sedang liburan di Jogja, mas Bowo mengundang mereka mampir. Aku dan Inda ngekor saja, mumpung hari itu lowong juga. Kami sedang menuju Magelang ketika mbak Rina memberi tahu akan mampir Dongkelan dulu. Kami beruntung diantar sopir rental yang tahu jalan, meskipun tempatnya juga tidak begitu susah dicari. Dengan ancer-ancer yang dikabarkan lewat BBM, kami sampai tanpa perlu tanya sana-sini, juga tanpa adegan tersesat.

Mas Bowo adalah purser, semacam penyelia, di tempatnya bekerja, salah satu maskapai penerbangan nasional Indonesia. Meskipun tinggal di Jakarta, sesudah pensiun, ia membangun mimpi lamanya ini di Jogja. Mungkin karena dia berasal dari Jogja, itupun kalau aku tidak salah menangkap informasi yang simpang siur di antara percakapan dan puji-pujian pada gedung yang dibangun atas detil-detil yang sekaligus menjadi catatan perjalanannya mengelilingi dunia pada saat masih bertugas.

“Patung ini didapat waktu saya terbang ke Shanghai,” katanya sambil menunjuk sebuah patung keramik gajah. Kami juga mengagumi headbed yang dihiasi keramik klasik dari Belanda. “Saya ngumpulin barang-barang ini selama 5 tahun. Kebanyakan furnitur dari Probolinggo,” sambil menyentuhi kusen jendela dan gebyok dan memandangnya seolah mereka harta karun yang ia temukan. Barang-barang ia titip dulu. Ketika vila ini mulai dibangun, baru ia mengambil titipan berharganya itu.


Biarpun dinamai vila, mas Bowo tak lantas menjadikan tempat ini sebagai penginapan komersil. Tentu peristirahatan yang memiliki tujuh kamar ini akan disewakan, tapi ia lebih memilih mengembangkan “teknik promosi” dari mulut ke mulut saja. “Ah ini cuma untuk saudara atau teman-teman yang kebetulan di Jogja dan udah nggak kedapetan tempat aja.” Percayalah dia cuma mencoba bersikap bersahaja. Awalnya mbak Rina juga diharapkan menginap di sini. “Sayang, tempatnya belum jadi,” kata mas Bowo menyesalkan. Mereka terlihat cukup akrab padahal, “Selama 23 tahun kerja jadi pramugari, aku cuma tiga kali berada dalam satu tim sama mas Bowo.” Wow. Wow untuk mbak Rina karena sanggup mengingat 3 kota tujuan mereka, sementara aku bahkan tidak bisa mengingat satupun kota yang ia sebutkan. Manado? Paris? Amsterdam? Apapun.

“Soalnya mas Bowo itu gampang diingat. Orangnya baik tapi cerewet minta ampun,” lanjut mbak Rina. Ya, aku setuju soal itu. Mas Bowo sangat ramah dan ketulusannya tak pura-pura. Dia juga cerewet–atau lebih tepatnya perfeksionis. Sembari mengajak kami berkeliling ke ruang atas, dia cerita bagaimana dia mencari tanaman tertentu untuk hiasan vila ini dan harus tanaman itu, harus! Ia rela menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk tanaman itu–kalau tidak salah suplir–semata-mata karena biar sepadan dengan tema bangunan ini.

Tak ada senja berkunjung, cuma mendung. Kami memutuskan untuk meneruskan perjalanan sebelum gelap, berbekal informasi tempat-tempat yang musti dikunjungi di Magelang nanti, untuk mbak Rina dan teh Ina tentu saja. Malam ini kami cuma akan lala lala di Borobudur Jazz Festival.

Sampai bertemu lagi, kalian kupu-kupu. Terima kasih, mas Bowo.

No comments: