Jogja hujan. Begitu tiap hari. Kasihan jemuran. Dia pasti rindu sekali pada matahari. Kasihan pengendara motor dan pejalan kaki. Kasihan mereka yang tinggal di tepi Code. "Di jembatan tadi ada tim SAR yang jaga. Kalo debit air naik, mereka akan langsung kasi tahu," cerita sopir taksi—aku terpaksa naik taksi. Tak ada tujuan pasti hari ini. Kebetulan ada teman dari Jakarta. Kami bertemu di Rumah Palagan. Lalu aku memutuskan jalan-jalan.
Sopir taksi terus bicara. Tentang hulu dan hilir. Tentang lahar dingin. Tentang terputusnya jalan menuju Magelang. Tentang larangan dan peringatan. Aku memilih diam dan mendengarkan. Separuh mendengarkan. Di mobil tak diputar lagu, sementara kaki sepucat keju. Dingin menyelinap di lubang-lubang jendela. Aku mengingatkan diri untuk—selalu—membawa syal lain kali. Kalaupun tak untuk tengkuk, pasti berguna menghangatkan kaki.
Aku sampai di Gejayan. Kata teman, di atas Toga Mas, ada kafe yang minuman coklatnya ampuh menyembuhkan kesepian. Aku ke sini tidak untuk itu. Sesekali kita perlu kesepian, bukan? Lagipula, satu dua tenggat pekerjaan sudah cukup bikin hidup hiruk-pikuk.
Aku di sini karena rindu sendiri. Menyia-nyiakan waktu bersama secangkir kopi. Hari-hari kerja tak selalu bisa begitu. Teman-teman kantor yang ramah selalu menyapa selamat pagi. Email-email merangsek minta perhatian. Untung Mak Umi, yang masak di kantor, tak pernah kasip mengingatkan makan siang. Pada jam pulang, pak satpam yang baik hati mengucapkan selamat berpisah dan hati-hati di jalan. Empat tahun ini aku tak pernah harus menjawab semua itu. Tapi sekarang aku harus. Aku bukannya tak mau. Aku hanya tidak berbakat berada di keramaian.
Lalu, di sinilah aku, di Djendelo. Berdua dengan kopi bersekoetoe dengan soesoe yang dinamai Relakan Akoe Drop-out Boenda—mereka punya selera humor yang asik. Harganya sembilan ribu rupiah. Kenapa aku tidak memilih coklat, aku juga tidak tahu. Barangkali aku rindu Jakarta. Tiap kali di Kopitiam Oey, kopi soesoe indotjina—mereka menyebutnya kopi vietnam—itulah yang selalu kupesan. Barangkali sekedar kangen suasananya, sendiri bekerja di antara orang-orang asing yang enggan bertukar pandang.
Hanya aku tak selamanya beruntung. Setelah dua jam, digelar peluncuran buku “Nguping Jakarta”. Aku menguntit mereka di Twitter. Selalu sukses membuatku tertawa. Tapi tidak hari ini. Aku lebih suka menjauh. Mendengarkan Frau. Melebur bersama sisa hujan yang menetes diam-diam.
Gejayan, 16.20 waktu Jogja.
No comments:
Post a Comment