Klik Bila Perlu

Tuesday, January 21, 2014

Mantra Mayerof pada Sri Sumarah dan Bawuk

“Ibu yang bijaksana. Ternyata cuma kau yang mengerti.” Ungkapan tersebut digumam Bawuk pada kepergiannya dari rumah Mammie setelah ‘percakapan’ yang alot dengan Mammie dan kakak-kakaknya beserta suami atau istri mereka.[1] Dari ungkapan itu pula, terdeteksi alpanya sabar sebagai salah satu aspek dari hubungan yang mutual karena dengan sabar kita memberi orang lain, dan pada hakekatnya kita juga, untuk tumbuh.[2] Pihak satu, dalam hal ini kakak-kakak dan ipar Bawuk, melakukan pendominasian pada pihak lain (baca: Bawuk). 

Mereka yang berpegang teguh secara dogmatis pada satu keyakinan cenderung memaksakan dan membuat orang lain kehilangan haknya sebagai orang lain, dan itu hubungan semacam itu memungkinkan terjadinya apa yang disebut sebagai relasi parasiter oleh Mayeroff dan meniadakan relasi timbal balik sebagai model hubungan yang idealkan. Ketika kita memperhatikan orang lain bukan berarti bahwa ada pengesahan akan ‘penindasan’ pada yang lain tersebut karena pada dasarnya memperhatikan adalah menolong orang lain, dan diri kita juga, berkembang. 

Dengan anggapan bahwa orang lain adalah perluasan dari diri kita sekaligus sebagai sesuatu yang terpisah dari kita sehingga kita menghargainya tanpa memupuskan empati padanya. Ketika nada-suara yang disampaikan oleh kakaknya semacam interogasi, nampaknya semua jari saudara dan ipar-iparnya diangkat bersama-sama dan ditujukan padanya, justru membuat Bawuk merasa bahwa perhatian kakak-kakaknya ‘memperlihatkan sikap kurang percaya dengan mencoba menguasai dan menggiring orang lain ke dalam satu bentuk yang telah ditetapkan lebih dulu/atau dengan menuntut jaminan mengenai hasil’.[3] Para kakak bergiat melindungi Bawuk. Sedangkan Bawuk sendiri yang tidak pernah merasa dirinya benar-benar seorang PKI, hanya berkeinginan untuk bersama dengan suaminya, Hassan, yang kebetulan adalah dedengkot PKI. Pandangan naif Bawuk itulah yang menjadi jurang tak terjembatani antara Bawuk dan kakak-kakaknya.

Ketika menulis Musim Gugur Kembali di Connecticut dan Bawuk, pak Kayam coba melakukan refleksi antara hubungan manusia dengan segala aspek yang menjadi bagian dalam kehidupannya. Kemudian penulisan Kimono Biru dan Sri Sumarah adalah lanjutan dari usaha pemahamannya tersebut.[4] Bagaimanapun, Hubungan dengan orang lain berjalan bersamaan dengan adanya kesadaran akan keterpisahan dan individualitas orang lain. Nyonya Suryo, ibu Bawuk, adalah pengejawantahan dari usaha tersebut. Senafas dengan itu, Sri yang meleset dugaannya mengenai prilaku anak muda, tetap berusaha pula mengendalikan dirinya. Mengetahui putri semata wayangnya tidak perawan lagi, meskipun dalam hatinya dia berteriak “Gustiiii, nyuwun ngapura”[5], tetapi dia justru mengambil putusan mengawinkan Tun, anaknya, dengan Yos, pacar Tun, dengan semeriah mungkin dan selanjutnya memodali mereka untuk memulai kehidupan mereka yang baru.

Terlepas apakah Nyonya Suryo adalah seorang ibu (Bawuk) dan Sri Sumarah adalah seorang ibu juga (dan namanya Sumarah telah mengkonstruk pandangannya memaknai dunia). Aspek lain dalam hubungan yang mutual adalah jujur dan itu berarti ‘melihat orang lain itu sebagaimana adanya dan bukan seperti yang saya inginkan atau seperti yang saya harapkan’.[6] Ada juga semacam kepercayaan yang diakibatkan dari sikap yang diambil oleh kedua perempuan tersebut. Sikap tersebut membuat Bawuk dan Tun bertanggung jawab pada keadaan yang dipilihnya. Lain soal juga, apabila yang dipermasalahkan di sini adalah jalan yang diambil keduanya ‘jalan kiri’.

Kenapa hal ini lalu jadi hal yang penting untuk dibicarakan karena dalam sebuah karya sastra mulai dari yang paling eksplisit ada sebuah nilai yang mungkin disadari atau tidak oleh penulis. Dari bagian terkecil pun, tentu saja ada kehendak untuk menyampaikan satu nilai atau kebenaran[7].

Dosen saya mengatakan, sastra bukan filsafat, melainkan pengejawantahan dari filsafat itu sendiri yang berada pada tataran konsep. Demikian pula dengan tulisan ini, meskipun bukan merupakan Tema Besar, penulis berusaha menerapkan konsep yang dirumuskan oleh Mayeroff dalam Seni Memperhatikan ke dalam dua karya yang ditulis oleh Umar Kayam, Sri Sumarah dan Bawuk. 



[1] Lih. Umar Kayam, “Bawuk” dalam Seribu Kunang-kunang di Manhattan, Jakarta, Grafiti, April 2003: 129-139.
[2] Lih. Milton Mayeroff, Seni Memperhatikan, terjemahan Drs. Agus Cremers dan Drs. Frans Ceufin, Jakarta, Gramedia, 1993.
[3] Lih. Milton Mayeroff, Seni Memperhatikan, Jakarta, Gramedia, 1993: 43.
[4] Lih. Umar Kayam, “Tentang Proses Penulisan Cerita Saya” dalam Basis XXXII (3), 1983.
[5] “Tuhan,  mohon ampun.” Lih. Umar Kayam, “Sri Sumarah” dalam Seribu Kunang-kunang di Manhattan, Jakarta, Grafiti, April 2003: 203.
[6] Lih. Milton Mayeroff, Seni Memperhatikan, Jakarta, Gramedia, 1993: 41.
[7] Meskipun kebenaran itu sendiri adalah konsep yang masih abstrak.

No comments: