“Ibu yang bijaksana. Ternyata cuma
kau yang mengerti.” Ungkapan tersebut
digumam Bawuk pada kepergiannya dari rumah Mammie setelah ‘percakapan’ yang
alot dengan Mammie dan kakak-kakaknya beserta suami atau istri mereka.[1]
Dari ungkapan itu pula, terdeteksi alpanya sabar sebagai salah satu
aspek dari hubungan yang mutual karena dengan sabar kita memberi orang lain,
dan pada hakekatnya kita juga, untuk tumbuh.[2]
Pihak satu, dalam hal ini kakak-kakak dan ipar Bawuk, melakukan pendominasian
pada pihak lain (baca: Bawuk).
Mereka yang berpegang teguh secara dogmatis pada
satu keyakinan cenderung memaksakan dan membuat orang lain kehilangan haknya
sebagai orang lain, dan itu hubungan semacam itu memungkinkan terjadinya apa
yang disebut sebagai relasi parasiter oleh Mayeroff dan meniadakan relasi
timbal balik sebagai model hubungan yang idealkan. Ketika kita memperhatikan
orang lain bukan berarti bahwa ada pengesahan akan ‘penindasan’ pada yang lain
tersebut karena pada dasarnya memperhatikan adalah menolong orang lain, dan
diri kita juga, berkembang.
Dengan anggapan bahwa orang lain adalah perluasan
dari diri kita sekaligus sebagai sesuatu yang terpisah dari kita sehingga kita
menghargainya tanpa memupuskan empati padanya. Ketika nada-suara yang
disampaikan oleh kakaknya semacam interogasi, nampaknya semua jari saudara
dan ipar-iparnya diangkat bersama-sama dan ditujukan padanya, justru
membuat Bawuk merasa bahwa perhatian kakak-kakaknya ‘memperlihatkan sikap
kurang percaya dengan mencoba menguasai dan menggiring orang lain ke dalam satu
bentuk yang telah ditetapkan lebih dulu/atau dengan menuntut jaminan mengenai
hasil’.[3]
Para kakak bergiat melindungi Bawuk. Sedangkan Bawuk sendiri yang tidak pernah
merasa dirinya benar-benar seorang PKI, hanya berkeinginan untuk bersama dengan
suaminya, Hassan, yang kebetulan adalah dedengkot PKI. Pandangan naif
Bawuk itulah yang menjadi jurang tak terjembatani antara Bawuk dan
kakak-kakaknya.
Ketika menulis Musim
Gugur Kembali di Connecticut dan Bawuk, pak Kayam coba melakukan
refleksi antara hubungan manusia dengan segala aspek yang menjadi bagian dalam
kehidupannya. Kemudian penulisan Kimono Biru dan Sri Sumarah
adalah lanjutan dari usaha pemahamannya tersebut.[4]
Bagaimanapun, Hubungan dengan orang lain berjalan bersamaan dengan adanya
kesadaran akan keterpisahan dan individualitas orang lain. Nyonya Suryo, ibu
Bawuk, adalah pengejawantahan dari usaha tersebut. Senafas dengan itu, Sri yang
meleset dugaannya mengenai prilaku anak muda, tetap berusaha pula mengendalikan
dirinya. Mengetahui putri semata wayangnya tidak perawan lagi, meskipun dalam
hatinya dia berteriak “Gustiiii, nyuwun ngapura”[5],
tetapi dia justru mengambil putusan mengawinkan Tun, anaknya, dengan Yos, pacar
Tun, dengan semeriah mungkin dan selanjutnya memodali mereka untuk memulai
kehidupan mereka yang baru.
Terlepas apakah
Nyonya Suryo adalah seorang ibu (Bawuk) dan Sri Sumarah adalah seorang ibu juga
(dan namanya Sumarah telah mengkonstruk pandangannya memaknai dunia).
Aspek lain dalam hubungan yang mutual adalah jujur dan itu berarti ‘melihat
orang lain itu sebagaimana adanya dan bukan seperti yang saya inginkan
atau seperti yang saya harapkan’.[6]
Ada juga semacam kepercayaan yang diakibatkan dari sikap yang diambil oleh
kedua perempuan tersebut. Sikap tersebut membuat Bawuk dan Tun bertanggung
jawab pada keadaan yang dipilihnya. Lain soal juga, apabila yang
dipermasalahkan di sini adalah jalan yang diambil keduanya ‘jalan kiri’.
Kenapa hal ini lalu jadi hal yang penting untuk
dibicarakan karena dalam sebuah karya sastra mulai dari yang paling eksplisit
ada sebuah nilai yang mungkin disadari atau tidak oleh penulis. Dari bagian
terkecil pun, tentu saja ada kehendak untuk menyampaikan satu nilai atau kebenaran[7].
Dosen saya mengatakan, sastra bukan filsafat, melainkan
pengejawantahan dari filsafat itu sendiri yang berada pada tataran konsep.
Demikian pula dengan tulisan ini, meskipun bukan merupakan Tema Besar, penulis
berusaha menerapkan konsep yang dirumuskan oleh Mayeroff dalam Seni
Memperhatikan ke dalam dua karya yang ditulis oleh Umar Kayam, Sri Sumarah dan
Bawuk.
[1] Lih. Umar Kayam, “Bawuk” dalam Seribu Kunang-kunang di Manhattan,
Jakarta, Grafiti, April 2003: 129-139.
[2] Lih. Milton Mayeroff, Seni Memperhatikan, terjemahan Drs.
Agus Cremers dan Drs. Frans Ceufin, Jakarta, Gramedia, 1993.
[3] Lih. Milton Mayeroff, Seni Memperhatikan, Jakarta, Gramedia,
1993: 43.
[4] Lih. Umar Kayam, “Tentang Proses Penulisan Cerita Saya” dalam Basis
XXXII (3), 1983.
[5] “Tuhan, mohon ampun.” Lih.
Umar Kayam, “Sri Sumarah” dalam Seribu Kunang-kunang di Manhattan, Jakarta,
Grafiti, April 2003: 203.
[6] Lih. Milton Mayeroff, Seni Memperhatikan, Jakarta, Gramedia,
1993: 41.
[7] Meskipun kebenaran itu sendiri adalah konsep yang masih abstrak.
No comments:
Post a Comment