
Sebelum Pertunjukan:
Sementara dia terus bercerita, saya pun terus mendengarkan. Di dalam mendengarkan itulah terjadi perumitan yang tujuan akhirnya adalah pemahaman. Di antara berbagai langkah yang diperlukan menuju pemahaman salah satunya adalah menyiapkan berbagai boks kardus yang siap diisi berbagai macam jenis satuan cerita. Penyeleksian dan pemilahan terkadang tidak semenarik bayangan awal. Jika dijabarkan hal tersebut akan terlihat membosankan. Cerita kadang terlihat seperti benang dan manusia bertugas menggulungnya secara teratur. Tindakan itu diperlukan sebagai antisipasi sehingga potensi kekusutan dapat diminimalisasi. Cerita juga sering kali seperti kenyataan sehari-hari yang kerap hadir jungkir-balik; disebut absurd karena tidak terpahami. Sebagai catatan awal saya membuat garis bawah pada kelompok tema tertentu. Pemilahan membawa saya pada pemandangan gamblang bahwa ceritanya berkecenderungan untuk banyak memberi perhatian pada hubungan antar-manusia dan soal kemanusiaan. Selanjutnya saya menyimpulkan bahwa ceritanya menunjukkan keberpihakan pada kelompok korban.
Senja rebah di dinding kaca Teater Kecil dan saya berada di ujung ketakjuban pada ceritanya yang jernih dan mengalir lancer tanpa hambatan. Riwayat panjang yang dikisahkannya kugulung perlahan. Di setiap konflik sosial dan kerusuhan massal, anak-anak dan perempuan selalu dikabarkan menjadi kelompok korban terbesar. Paparan dan telisik yang dilakukannya memperlihatkan bahwa hal tersebut tidak bisa disangkal. Demikianlah hal yang terjadi pada umumnya. Meski ikut membenarkan pandangan umum tersebut namun ia melihat adanya sebuah keunikan yang terjadi dalam kasus konflik di Ambon. Baginya, kaum perempuan di sana tidak hanya menyandang predikat korban. Katanya, perempuan Ambon di masa konflik justru mengambil peran penting sebagai komunikator politik-cinta. Semangat survival, dalam artian mempertahankan kehidupan keluarga, menjadi pemicu yang mendorong ibu-ibu menciptakan pasar Baku Bae. Di pasar itulah, kemudian, berbagai transaksi material dan pesan-pesan perdamaian saling dipertukarkan. Pasar menjadi wilayah tempat berseminya politik-cinta dan perdamaian. Ibu-ibu dan umumnya kaum perempuan secara nyata menyebarkan cita-cita perdamaian kepada sesamanya; kepada anak, suami, dan seluruh anggota keluarganya. Pemandangan yang dilihatnya, katanya, masih menyisakan pertanyaan apakah hal tersebut muncul karena lahirnya kesadaran baru yang diinisiasi oleh situasi konflik yang mendesak ataukah itu sesuatu yang alami, mengalir, dan seolah tanpa disadari oleh para pelakunya? Itu pertanyaannya, sedangkan saya masih terus menggulung uraian kisah yang diceritakan secara naratif sekaligus diskursif itu. Bercakap dan mendengarkan ceritanya membuat saya mengalami pengayaan. Kisah-kisah yang disampaikannya suatu saat nanti tentu saja bisa bermanfaat. Apa yang diceritakannya diam-diam kusimpan menjadi bahan baku cerita yang kelak bisa bermetamorfosis dalam berbagai artikel yang kira-kira bisa dijuduli, “Gurih Legit Ambon Manise”, “Kuliner Laut Kaya Rempah”, “Selayang Pandang Sejarah Maluku”, “Merekam Denyut Nadi Budaya Maluku”, “Berguru ke Maluku”, “Cinta: Untuk Satu Maluku”, dlsb.
Temaram membuat profil wajahnya menegas dalam siluet. Di depan terlihat keramaian orang, sebentang layar, dan tenda-tenda yang menjajakan aneka ragam jajanan dan pernak-pernik bercita-rasa Maluku. Pagar beton di sebelah kanan bergraviti dengan karakter hurup jelas: one nation under sinetron. Saya tersenyum-senyum melihat seorang skateboarder yang gagal berulang kali mendemostrasikan kickflip di depan beberapa temannya. Usaha yang dilakukannya seperti tidak menunjukkan perbaikan meski terus diulang-ulang. Selain mengenai bakat, itu juga menyangkut soal semangat. Senyum semakin lebar saat tiba di pikiran yang terkait dengan semangat untuk terus mencoba meski gagal dan gagal. Untuk teknik semacam kickflip seseorang harus menemukannya sendiri. Malam nanti pokja kebudayaan INDONESIA KITA akan mempertunjukkan drama musikal Beta Maluku. Di acara itulah kami membuat janji untuk bertemu. Enam tahun yang lalu dia lulus cepat bahkan mendahuluiku. Beberapa bulan yang lalu, booming situs jejaring sosial kembali menghubungkan dua orang teman yang masing-masing kehilangan kabar. Dari sana percakapan-percakapan bergulir dalam zona saiber. Baru dua minggu yang lalu kabar konser cinta Beta Maluku mendorong terjadinya pertemuan. Semenjak keluar dari rimba dan mengambil cuti dari lapangan sekadar mengisi kamar yang sudah lama ditinggalkan, saya kehilangan semangat dan kurios untuk jalan-jalan keluar. Dia mendengarkan. Seharusnya saya mulai bercerita, tetapi tidak. Saya sadar dan kemudian diam sebentar untuk menyiapkan pertanyaan susulan agar bisa kembali memperpanjang ceritanya yang mungkin sebetulnya sudah cukup komplit. Indonesia timur adalah dunia gelap dalam pengalamanku. Sedikit bayangan dari berbagai catatan dan literatur memang telah kusimpan namun sesungguhnya yang sebatas itu tidak lebih hanya khayal semu atas sesuatu. Maluku, Buru, Raja Ampat, Lembah Baliem, dan berbagai pulau lain di kepulauan sunda kecil. Kaki ini belum pernah menapak di sana. Acara malam pertunjukan semacam ini juga hanya satu hampiran yang sangat terbuka untuk disalahartikan. Karena itulah saya menciptakan pertanyaan-pertanyaan agar sesuatu yang mungkin sudah utuh itu terus mengembang. Pertanyaan akan membuat yang seolah utuh menjadi utuh. Riwayat papedaboleh juga, hikayat Pela Gandong menarik juga. Katanya, mungkin nanti kami akan mendapat suguhan Kapata, salah satu musik khas Maluku. Intensitas cahaya yang menurun digantikan lampu taman sepelataran. Kisah itu nostalgis baginya. Seraya terus bercerita mungkin ia sedang menziarahi ingatan; berbagai kenangan yang ada di susunan belakang. Kukira ceritanya dimaksudkan juga sebagai pengingat yang bisa menyegarkan stok pengalaman yang boleh jadi kini ditumpuki berbagai soal lain yang mengisi memori di kepalanya.
“Jadi semangat nih?” tanyaku. Jangan sangka membuat pertanyaan itu perkara mudah. Setelah hampir satu jam saya bertanya ini dan itu, akhirnya saya harus sampai pada keadaan tanpapertanyaan. Saya melihat dua orang teknisi yang dibuat sibuk oleh proyektor dan komputer. Tenda-tenda dipenuhi penjual dan pembeli.
“Tentu saja. Optimis seperti kaum positivis,” jawabnya. Ujung mata kiriku masih bisa melihatnya menarik napas lega, “kita lihat September.”
“Jadi itu politik?”
“Itu politik. Pendekatan budaya satu-satunya yang menjanjikan keberhasilan; juga kuliner.”
“Kuliner?”
“Kuliner. Kuliner itu salah satu produk kebudayaan yang gerakannya luwes, jadi sulit buat dipolitisasi. Coba aja. Kuliner itu mampu menembus batas suku, agama, ekonomi, ideologi, dan politik.”
Saya masih bisa membayangkan bagaimana percakapan bergulir dari satu persoalan ke persoalan; ke sub-persoalan, ke dalam terus menyoroti renik dan kembali ke permukaan. Keadaan akhirnya menempatkan saya sebagai pencerita. Soal yang akan saya ceritakan pasti menyinggung hal yang sensitif sehingga jika tidak mengukur temanku berbincang dan berbagi soal tentu urung kukisahkan. Kisah yang selama ini kurahasiakan saat itu menemukan konteks yang menjadikannya penting dan relevan. Meski sejak lama selalu kusimpan akhirnya di sampingnya kukeluarkan. Diam-diam aku berharap semoga tidak salah alamat, karena bagaimana pun setiap cerita haruslah menemukan pembacanya yang tepat. Cerita ini saya tempatkan sebagai ilustrasi atau bukti (?) untuk mendukung pernyataan yang kupertahankan. Berada dalam keadaan itu membuat pertunjukan yang sedang kami nantikan menjadi kehilangan arti. Perbincangan seolah menjadi tujuan pertemuan. Meski demikian karcis pertunjukan sudah kami pegang sehingga jika waktunya tiba kami bisa langsung bergerak masuk.
“Kalok lu nggak percaya, coba dengerin gua punya cerita.”
Saya mulai bercerita saat lidah dan mulut masih menyimpan sensasi rasa kenari … Suatu hari, bersama tiga orang teman, saya masuk ke sebuah rumah makan pinggir jalan. Rumah makan itu sudah cukup sering saya datangi, meski baru kali itulah saya datang membawa teman-teman yang oleh ilmuwan sosial juga wartawan lazim disebut sebagai masyarakat suku terasing.
Warung itu menyediakan sederet panjang daftar makanan yang ditulis dengan indah dan penuh warna di dalam buku menu yang besar dan bersampul keras. Sebagian besar makanan yang disajikan cenderung bersantan tebal. Berbagai varian ikan, cumi dan udang. Bermacam olahan berbahan ayam, kambing, sapi dan rusa. Tidak seperti di warung sunda, di situ tidak pernah ada sayuran mentah yang disediakan sebagai lalaban (atau lalapan?) sehingga tempat itu sering saya datangi sebagai warung pilihan untuk makan pagi, siang, maupun malam bukan karena soal masakan yang enak dan cocok, melainkan hanya karena pertimbangan kepraktisan semata. Lokasinya strategis dan dekat dengan rumah-kantor tempatku tinggal dan bekerja. Jika saya ditanya, apakah di sana masakannya enak? Saya mungkin akan menjawabnya begini: masakan di sana bukan ‘enak’ dan bukan ‘tidak enak’. Mungkin karena sudah biasa, mungkin juga karena dibiasakan untuk kurun waktu yang sudah cukup lama. Paling tidak dalam sembilan bulanku di kota itu, warung makan besar itulah yang selalu kudatangi jika kebetulan sedang berada di kota.
Sebetulnya selain karena dekat dengan rukan tempatku kerja dan tinggal, warung itu menjadi menarik karena menyediakan taman, air terjun kecil dan kolam ikan. Di sanalah tempat yang kupilih jika datang untuk makan, minum, dan menjamu teman-teman maupun tamu-tamu yang datang; biasanya mereka datang dari Bandung, Jakarta, dan Jogjakarta. Bahkan, mengikutiku, beberapa kali peneliti asing dari Eropa, Amerika, dan Australia juga dibawa ke sana oleh bosku. Selama ini belum pernah ada komentar negatif dari mereka yang pernah kubawa ke sana; tamu-tamu organisasi yang dibawa bosku pun tidak. Sebagian besar justru menyukai suasana warung dan beberapa yang lain bahkan menyatakan kekagumannya atas makanan-makanan yang telah mereka santap. Enak? Hmm, soal lidah kita memang sulit untuk bersepakat juga berdebat. Banyak orang menyukai bumbu asam pade, sedangkan aku tidak. Pernyataan mereka membuatku senang karena dengan itu berarti aku takperlu membawa mereka ke warung-warung lain yang letaknya lebih jauh.
Saat teman-teman ikut ke kota, setelah keluar rimba dan membelah kompleks-kompleks satuan pemukiman transmigran, kebun karet, dan sebentang luas perkebunan sawit, sebelum akhirnya dan selanjutnya motor-motor mereka harus menyusuri jalan raya lintas propinsi, ke sana juga mereka saya bawa saat siang datang dan kami semua mulai lapar. Hari itu sudah hampir sejam berlalu sejak azan Dzuhur berkumandang, dan matahari benar-benar terasa seperti sejengkal. Dapur di rukan tidak menyimpan bahan makanan. Ucok sang manajer program tentu lupa berbelanja sebelum terbang ke Polonia. Dia akan menghadiri sebuah acara training dan workshop bertema Child Right Base Aproach. Ucok selalu malas untuk pergi ke warung atau pasar. Dia memang begitu; setidaknya itulah Ucok yang kukenal. Jika sedang tidak berada di dalam rimba dia akan menghabiskan waktu sepanjang hari di dalam kamar. Kalau pun harus keluar itu hanya sebatas halaman yang ada di depan dan samping rukan. Tidak seperti biasanya, siang itu bahkan sekadar mi instan, telur, dan cabe-bawang pun tiada di sana. Kering semuanya. Keadaan itu ikut menjadi pendorong niatku untuk menjamu teman-teman. Selesai mandi dan mencuci motor-motor lapangan dari segala lumpur perjalanan, saya ajak mereka semua keluar mendatangi warung makan.
Siang setelah perjalanan panjang: perut lapar dan tenggorokanku mendambakan es jus pinang masak yang mewakili rasa segar. Hari itu kami berjalan sambil tertawa-tawa. Teman-teman itu memang pecandu humor nomor wahid. Takada waktu tanpa lelucon. Sering saya berpikir bahwa mereka mungkin diciptakan sebagai kelompok masyarakat yang berkecenderungan memandang kehidupan dari sisi kejenakaan. Jika sedang berada di tengah-tengah mereka, senyumku takpernah hilang. Gigi sering terasa kering karena terlalu lama nyengir.
Jarak yang memang pendek terasa semakin diperpendek oleh tawa canda sepanjang jalan sehingga seolah dengan tiba-tiba kami sudah berada di dalam. Begitulah. Setelah sampai di rumah makan, segera saya mengarahkan langkah kaki semua teman-teman ke meja yang berada dekat kolam ikan di samping taman. Beberapa saat kemudian seorang pelayan menghampiri meja kami. Setelah meletakkan buku menu di meja yang masih kosong, sang pelayan mengatakan perintah singkat khusus kepada saya dengan suara yang begitu pelan sehingga hampir-hampir tidak terdengar karena diucapkan dengan sangat perlahan. Seharusnya saya menyadarinya saat itu. Gerak-gerik, nada, dan suaranya seolah ingin menunjukkan sesuatu yang secara sadar disembunyikannya. Saya mengikutinya ke ruang depan. Tidak ada prasangka apapun di kepala, saat itu. Mendengar suaranya, begitu saja saya menguntit di belakang. Di sebelah meja kasir, seorang lelaki setengah baya yang sejak lama kuketahui sebagai pemilik warung tersenyum kikuk sambil mengulurkan tangannya. Segera kusambut juga sambil tersenyum, maka kami pun bersalaman.
Beberapa saat tanganku digenggam erat. Saya mengikuti guncangan-guncangan yang dilakukannya dalam bersalaman. Selama kunjunganku ke warung makannya belum pernah seperti itu. Saya tidak pernah akrab kecuali sebatas kenal-muka dengannya. Bukankah jelas bahwa sikapnya yang kurasa saat itu terlalu berlebihan, kini dapat dilihat berhubungan dengan suara pelan penuh kerahasiaan dan kesan ragu-ragu dari pelayan yang tadi mendatangiku. Dari mulutnya keluar ucapan permintaan maaf yang dilontarkan berulang-ulang, “Maafkan saya Mas, maafkan saya Mas, maafkan Mas…” dan pendengaranku merasakan keanehan saat sapaan Mas berepetisi dalam pendengaran. Orang-orang di kota ini senang memanggil pendatang dengan sebutan “Mas”. Mereka mengabaikan asal-usul seseorang yang datang dari Jakarta, Jawa Barat, atau pun tempat-tempat lainnya. Kepada semua orang-orang asing mereka menyematkan sapaan “Mas”. Itulah yang terjadi siang itu. Si Bapak pemilik warung pun memanggilku dengan sebutan “Mas”. Semangat humor yang mulai terasah sejak sembilan bulan terakhir intens bergaul dengan teman-teman di sana membuatku ingin menjelaskan bahwa sebenarnya nama saya ini bukan Tomas sehingga tidak benar memanggil saya dengan sebutan “Mas”… di batin saya menggerutu, “Maas Maf, maas Maf, maas Maf… saya bukan orang Jawa dan tidak tinggal apalagi berasal dari sana.” Selanjutnya gerutuku berubah menjelma kutuk setelah mendengar kalimat sambungan yang diucapkannya dengan nada bersahabat. Masih dengan ucapan yang berkesan hati-hati dia memintaku membawa teman-teman keluar dari rumah makan miliknya. Dia juga menerangkan serba sedikit mengenai alasan-alasan yang mendorongnya sehingga dengan terpaksa harus mengatakan permintaan itu kepadaku. Katanya, dan yang terutama, ia tidak ingin tamu-tamunya yang lain pergi dan tidak lagi kembali ke warungnya karena di warung miliknya sekelompok pemuda, dari masyarakat yang oleh media massa dan buku-buku sejarah disebut primitif, telah menempelkan bibir, gigi, dan lidahnya di sendok, garpu, dan gelas yang mewadahi makanan dan minuman yang kami beli. Sejujurnya harus dikatakan bahwa teman-temanku yang oleh ilmuwan sosial juga wartawan lazim disebut sebagai masyarakat suku terasing yang hidup di tempat-tempat terpencil itu masih dianggap sub-human yang tidak berbudaya apalagi beradab. Para pelanggan akan hengkang karena tidak ingin satu ruangan dengan mereka. Sikap antipasti itu didasarkan pada kenyataan bahwa teman-temanku terbiasa memakan babi maupun hewan buruan lain yang tidak disembelih secara Islam yang karena itu bagi mereka yang mengaku beradab di kota kecil ini adalah bukan makanan serta dianggap menjijikkan. Mereka merasa “terancam” karena akan menggunakan piring, sendok, garpu, dan gelas yang pernah ditempeli liur orang-orang pemakan babi. Bahkan, mungkin, setelah saya dan teman-teman keluar, secara berlebihan kursi dan meja yang tersentuh bagian tubuh kami pun akan segera dicuci dengan abu sampai tujuh kali.
Betapa siang segera berubah malam dan mataku seperti memandang lorong gua panjang tanpa penerangan. Sungguh tidak pernah kusangka perkataan semacam itu akan kudengar. Betapa konyol permintaannya. Mesti bagaimana aku harus menyampaikannya kepada teman-teman. Rasa lapar di perutku seperti hilang. Mungkin saat itu wajahku melogam. Saya merasakan benak yang melegam serupa malam. Kurang ajar itu orang. Kami yang datang sebagai pembeli diusir keluar dengan kalimat plintat-plintut dan bahasa lembut penuh sopan-santun. Jelas sekali bahwa itu cuma kedok penutup kebusukan pikiran yang mengendap di dalam batok kepalanya.
Tidakkah itu perilaku tengik yang sarat dengan aroma diskriminasi. Pertimbangan awal soal “pemakan babi” kemudian bergeser pada “kaburnya para pengunjung” hingga ke “soal ekonomis”. Tidakkah itu politis; perilaku diskriminatif seperti itu justru menistakan agama yang mulanya menjadi sandaran pembenaran. Apakah memang begitu implementasi ajaran Islam yang bersumber pada al-Quran dan Hadits. Mengenai urusan ini saya tidak tahu, namun saya akan menanyakannya pada yang lebih tahu. Walau begitu, secara intuitif saya berasumsi bahwa agama tentu tidak akan mendorong pemeluknya untuk berlaku kurang ajar terhadap pemeluk agama lain.
“Udah deh … nanti lagi. Sekarang ayo antri.”
“Okey, okey .… Tapi coba deh, kenapa kira-kira kok ada perbedaan, bahkan terhadap sesama pemakan babi, misalnya. Teman-temanku diusir sedangkan bule-bule itu tidak diusir. Dua-duanya dateng sebagai pembeli. Jangan lupa; pembeli‘kan raja. Gimana nggak kurang ajar. Perlakuan terhadap bule-bule terlalu positif dan berlebihan; sedangkan bagi teman-teman terlalu berlebihan negatifnya. Bahkan itu terjadi di warung makan; soal makanan dan alat-alat makan.” Kuikuti langkah sarjana yang kembali mahasiswa itu; masuk ke barisan, ke antrean. [ ]
August 6, 2011 at 1:51am
Sumber: https://www.facebook.com/mirza.ahmadhevicko
No comments:
Post a Comment