Perbedaan
antara kata yang tepat dan yang hampir tepat
adalah
perbedaan antara kilat dan kunang-kunang.
Mark Twain
Periksalah kata-kata yang Anda gunakan untuk memastikan bahwa mereka
telah mencapai efek yang Anda inginkan. Nasihat ini saya dapatkan dari Josip
Novakovich, pengajar penulisan cerita fiksi di Universitas Cincinnati dalam
bukunya Berguru kepada Sastrawan Dunia. Betapa besar peran bahasa, lebih
khususnya kata, pada sebuah tulisan, tidak peduli itu cerita fiksi atau
nonfiksi, nampaknya sangat disadari oleh pengarang. Dalam Catatan Pinggir
dan tulisan-tulisannya yang lain, misal Eksotopi dan Kata Waktu,
Goenawan Mohamad memilih kata yang tidak biasa digunakan penulis lain.
Kata-kata yang tidak lazim digunakan di sini, kadang-kadang membuat saya harus
membuka kamus. Kata tersebut termasuk arkaik atau sudah tidak umum lagi dipakai
orang. Dia tak lasak seperti sungai di gunung, tapi dalam. Penciptaannya
pada istilah yang baru membuat orang segar tiap kali membaca tulisannya.
Dalam media yang sama, kolom yang tentu saja dengan ruang terbatas, dan
dalam tema yang sama nampak sekali perbedaan yang mencolok. O, Anak (Mohamad,
1994: 85) diawali dengan kalimat apik yang memaksa kita untuk terus menapak
pada jalan yang telah dirintis. Anak adalah sumber kecemasan berabad-abad.
Atau barangkali lebih tepat: anak adalah tempat seorang tua menggantungkan
kecemasan-kecemasannya sendiri. Diteruskan dengan masuk ke cerita tentang
hari-hari terakhir Amangkurat I dan hubungannya dengan Pangeran Adipati, sang
putera mahkota. Pada paragraf 9, hal tersebut kembali direpetisi dalam bentuk
simpulan juga penegasan. Itulah sebabnya anak satu sumber kecemasan. Paragraf
bersambung dengan kalimat, Dan si anak sebaliknya. Merasa tertekanoleh
ketakutan yang bukan miliknya itu, ia mencoba lepa. Bentrok pun terjadi. dan
itulah dasar persengketaan antargenerasi. Kalimat ini berakar serabut,
sebenarnya. Tidak hanya mengacu pada tema kekuasaan yang menjadi
klasifikasinya. Menyangkut masalah sosial, komunikasi, moralitas, budaya dan
sebagainya. Akan tetapi mungkin, atas pertimbangan tertentu editor memasukannya
pada tema kekuasaan. Tulisan kolom ini belum selesai, bahwa simpulan yang diambil
bukan air yang menyublim dibuktikan dengan sikap sama yang dipilih Gandhi pada
4 paragraf berikutnya. Kolom ini kemudian dipungkas dengan mengutip judul buku
Imam Ghazali.
“O, Anak”, kata sebuah judul buku Imam Ghazali, yang seakakn terdengar
seperti, “O, Kecemasanku!”. Mungkin dunia akan lebih baik jika seorang raja dan
seorang suci tidak melahirkan keturunan. Raja punya kekuasaan yang yang teramat
besar, orang suci punya kesucian yang teramat tinggi. Kecemasan mereka, cinta
mereka, konflik mereka, dan investasi mereka dalam urusan anak-anak mereka,
bisa membuat banyak tindakan di luar proporsi.
Bentuk penulisan dan tema serupa terdapat pada dinasti (tentang
Sanjay Gandhi, putra perdana menteri Indhira Gandhi cucu Nehru), hamlet, dan
o, absyalom (tentang Tsar Peter yang Agung dan putranya, Alexis).
Pada Sang Anak (Kayam, 1994:151), diulik kecemasan yang
sama tentang sang anak. Tentang kehidupannya mendatang, tentang kecemasan orang
tuanya. Akan tetapi, teknik penulisan yang dipakai Kayam yang juga diterapkan
pada semua tulisan pada kumpulan kolom ini bervariasi dengan gaya yang
digunakan Goenawan. Kayam mengambil tema tersebut dari pemandangan sehari-hari.
Peristiwa Mr. Rigen direktur kitchen cabinetnya bersama istri, Ms.
Nansiyem, anaknya, Beni Prakosa, dan anak keduanya yang lahir kemudian, Septian
Jaya. Peristiwa religi; hari raya Ied, idul adha, Ibrahim-Ismail. Peristiwa
‘jawa’; malam suro dan sebagainya. Di samping sumber ide berbeda, Kayam
mengambil bentuk yang berbeda pula; yakni dialog ditambah sedikit ngunandika
‘bicara pada diri sendiri’. Obrolan itu nampaknya hanya obrolan biasa-biasa
saja, seperti yang biasa terjadi di meja makan, dapur, ketika memijit, namun
sebenarnya biang percakapannya dengan Mr. Rigen yang diset sangat cerdas plus
naif ini adalah masalah-masalah sosial,
kemanusiaan, nasionalisme yang genting (“ubber alles!” dan “halo-halo &
prof. Surapon”). Dari sini kelihatan, Kayam sangat sadar akan posisinya sebagai
priyagung, intelektual, budayawan dan banyak lagi gelar di pundaknya. Ah,
mereka tidak menyadari bagaimana beruntung mereka punya majikan priyayi Kopri,
elite birokrasi seperti saya. …saya sang patriach, sang kepala suku,
harus bicara juga. (hlm. 213-214). Dia selalu mengambil posisi
majikan vs batur. Wong gede vs wong cilik. Kalau Goenawan sering memasang
bahasa arkaik, Kayam lebih banyak menggunakan bahasa Jawa yang besar
kemungkinan susah dimengerti orang di luar suku Jawa karena perbedaan rasa
bahasa. Misal, mak jrantal, nyuwun samudra pangaksami, utuk-utuk, bloedruk
‘tekanan darah tinggi’, orek-orekan iwik-iwik, pilgrimage ‘perjalanan
ziarah’. Kayam juga tidak terlalu memperhatikan bahasa Indonesia yang
baik dan benar, contoh prelu ‘perlu’, diganduli, tak bilangi, endok,
duduk berjengkeng. Beberapa kata sejenis tidak dimiringkan. Justru
dengan pilihan bentuk tulisan pilihan katanya, Kayam membuat tulisannya menjadi
‘tidak berat’, namun dalam. Dengan sudut pandang orang pertama, Kayam mengajak
kita masuk ke dalam kebiasaan-kebiasaan khas personal yang banyak dibeberkan
dalam tulisannya ini. Bagaimana hubungannya dengan engkoh pemilik resto kaki
lima yang ia beri nama Masih Sepuluh. Bagaimana kerinduannya pada Yogya, tukang
perak, dawet, cao, dan restoran Masih Sepuluh-nya ketika berada di Filipina.
Bagaimana terpesonanya beliau pada Missus Belgeduelbeh, direktris kitchen
cabinet di rumah Cipinang Jakarta, akan pandangannya mengenai agama.
Halaman 213. Justru dari peristiwa pribadi dan yang sering kita lihat sambil
lalu itulah, Kayam mengajak pembacanya tidak hanya berha-ha he-he dengan
kelucuan Mr. Rigen tapi juga berhenti sejenak untuk memikirkan, merenungi, dan
merefleksi kejadian yang sekitar kita. Mungkin itu sebabnya tulisannya 98%
diakhiri dengan titik empat (….).
Dari konteks kemudian lahir teks yang melalui struktur
lahirnya tercermin sikap yang diambil sang penulis dengan hal yang ditulisnya.
Menurut Nurgiyantoro (2000), menyerap dari Fowler (1977), struktur batin
merupakan makna abstrak dari kalimat (bahasa) yang bersangkutan, merupakan
struktur makna yang ingin diungkapkan. Terbaca dari tulisan, Kayam sebagai
seorang priyagung Jawa sekaligus intelektual memagari sikapnya dengan; semat,
derajat, kramat, dan hormat. Ditambah dengan sakmadyo, ora
ngongso, ora ngoyo, hidup sewajarnya. Jadi wajar juga kalau Kayam selalu
memposisikan dirinya sebagai orang yang dihormati oleh orang sekitarnya. Beliau
merasa mempunyai hormat ‘penghargaan dari masyarakat semata-mata bukan
karena semat ’harta’, derajat, dan kramat ‘kekuasaan’
melainkan tulus dari hati karena kepribadiannya yang juga menghormati dan
memperhatikan sesamanya’ (Herusatoto, 1991:83-84). Kayam, melalui titik
empatnya, memberi pe-er pada pembaca mengenai hal-hal sepele atau yang
disepelekan, dari orang-orang yang sepele atau disepelekan, bahwa hal-hal dan
orang-orang itu juga menuntut untuk kita pikirkan. Menyangkut juga rasa
kepedulian kita yang hampir punah dan kemanusiaan, yang otomatis, apabila
berbicara mengenai orang lain maka itu secara tidak langsung terdapat kita di
dalamnya. Kayam tidak memandang derajat, apakah itu seorang batur atau
tukang ayam panggang ayam keliling atau profesor sekalipun, karena keluguan dan
hal kecil itu muncul dari mata rantai sistem yang komplek yang baik langsung
atau tidak langsung membentuk sikap kita untuk survive. Kesadaran-kesadaran
itu yang akan kita dapat kalau memakai kaca pandang Kayam dalam melihat
lingkungannya.
Goenawan Mohamad dengan pemakaian sudut pandang orang
ketiganya, pemakaian ilustrasi karya sastra (“Macbeth”, “Hamlet”, “Babi”) atau
peristiwa yang benar-benar terjadi (“Kemal dan Kesepian”, “Bung Karno”, “Le
Machine”) pengutipan drama (“Terbuka”)
serta kata-kata mukjizat dari orang besar, pada tingkat deep structure ‘struktur
batin’ turut mengajak pembaca merangkai dan menganalogi karya dan peristiwa
dengan kondisi sekeliling kita. Meski ungkapannya berlainan—alur yang digunakan
Goenawan; memetik peristiwa, atau kisah, baur dengan analisisnya—pembaca
dipaksa juga larut dalam konteks yang disampaikan. Pertanyaan selanjutnya,
setelah membaca kumpulan kolom Goenawan dan Kayam, sejauh rasa kemanusiaan kita
memberi andil pada lingkungan seputar kita?
No comments:
Post a Comment