Klik Bila Perlu

Monday, January 06, 2014

Goenawan dan Kayam dalam Kolom

Perbedaan antara kata yang tepat dan yang hampir tepat
adalah perbedaan antara kilat dan kunang-kunang.
Mark Twain

Periksalah kata-kata yang Anda gunakan untuk memastikan bahwa mereka telah mencapai efek yang Anda inginkan. Nasihat ini saya dapatkan dari Josip Novakovich, pengajar penulisan cerita fiksi di Universitas Cincinnati dalam bukunya Berguru kepada Sastrawan Dunia. Betapa besar peran bahasa, lebih khususnya kata, pada sebuah tulisan, tidak peduli itu cerita fiksi atau nonfiksi, nampaknya sangat disadari oleh pengarang. Dalam Catatan Pinggir dan tulisan-tulisannya yang lain, misal Eksotopi dan Kata Waktu, Goenawan Mohamad memilih kata yang tidak biasa digunakan penulis lain. Kata-kata yang tidak lazim digunakan di sini, kadang-kadang membuat saya harus membuka kamus. Kata tersebut termasuk arkaik atau sudah tidak umum lagi dipakai orang. Dia tak lasak seperti sungai di gunung, tapi dalam. Penciptaannya pada istilah yang baru membuat orang segar tiap kali membaca tulisannya.
Dalam media yang sama, kolom yang tentu saja dengan ruang terbatas, dan dalam tema yang sama nampak sekali perbedaan yang mencolok. O, Anak (Mohamad, 1994: 85) diawali dengan kalimat apik yang memaksa kita untuk terus menapak pada jalan yang telah dirintis. Anak adalah sumber kecemasan berabad-abad. Atau barangkali lebih tepat: anak adalah tempat seorang tua menggantungkan kecemasan-kecemasannya sendiri. Diteruskan dengan masuk ke cerita tentang hari-hari terakhir Amangkurat I dan hubungannya dengan Pangeran Adipati, sang putera mahkota. Pada paragraf 9, hal tersebut kembali direpetisi dalam bentuk simpulan juga penegasan. Itulah sebabnya anak satu sumber kecemasan. Paragraf bersambung dengan kalimat, Dan si anak sebaliknya. Merasa tertekanoleh ketakutan yang bukan miliknya itu, ia mencoba lepa. Bentrok pun terjadi. dan itulah dasar persengketaan antargenerasi. Kalimat ini berakar serabut, sebenarnya. Tidak hanya mengacu pada tema kekuasaan yang menjadi klasifikasinya. Menyangkut masalah sosial, komunikasi, moralitas, budaya dan sebagainya. Akan tetapi mungkin, atas pertimbangan tertentu editor memasukannya pada tema kekuasaan. Tulisan kolom ini belum selesai, bahwa simpulan yang diambil bukan air yang menyublim dibuktikan dengan sikap sama yang dipilih Gandhi pada 4 paragraf berikutnya. Kolom ini kemudian dipungkas dengan mengutip judul buku Imam Ghazali.
“O, Anak”, kata sebuah judul buku Imam Ghazali, yang seakakn terdengar seperti, “O, Kecemasanku!”. Mungkin dunia akan lebih baik jika seorang raja dan seorang suci tidak melahirkan keturunan. Raja punya kekuasaan yang yang teramat besar, orang suci punya kesucian yang teramat tinggi. Kecemasan mereka, cinta mereka, konflik mereka, dan investasi mereka dalam urusan anak-anak mereka, bisa membuat banyak tindakan di luar proporsi.

Bentuk penulisan dan tema serupa terdapat pada dinasti (tentang Sanjay Gandhi, putra perdana menteri Indhira Gandhi cucu Nehru), hamlet, dan o, absyalom (tentang Tsar Peter yang Agung dan putranya, Alexis).
Pada Sang Anak (Kayam, 1994:151), diulik kecemasan yang sama tentang sang anak. Tentang kehidupannya mendatang, tentang kecemasan orang tuanya. Akan tetapi, teknik penulisan yang dipakai Kayam yang juga diterapkan pada semua tulisan pada kumpulan kolom ini bervariasi dengan gaya yang digunakan Goenawan. Kayam mengambil tema tersebut dari pemandangan sehari-hari. Peristiwa Mr. Rigen direktur kitchen cabinetnya bersama istri, Ms. Nansiyem, anaknya, Beni Prakosa, dan anak keduanya yang lahir kemudian, Septian Jaya. Peristiwa religi; hari raya Ied, idul adha, Ibrahim-Ismail. Peristiwa ‘jawa’; malam suro dan sebagainya. Di samping sumber ide berbeda, Kayam mengambil bentuk yang berbeda pula; yakni dialog ditambah sedikit ngunandika ‘bicara pada diri sendiri’. Obrolan itu nampaknya hanya obrolan biasa-biasa saja, seperti yang biasa terjadi di meja makan, dapur, ketika memijit, namun sebenarnya biang percakapannya dengan Mr. Rigen yang diset sangat cerdas plus naif ini adalah  masalah-masalah sosial, kemanusiaan, nasionalisme yang genting (“ubber alles!” dan “halo-halo & prof. Surapon”). Dari sini kelihatan, Kayam sangat sadar akan posisinya sebagai priyagung, intelektual, budayawan dan banyak lagi gelar di pundaknya. Ah, mereka tidak menyadari bagaimana beruntung mereka punya majikan priyayi Kopri, elite birokrasi seperti saya. …saya sang patriach, sang kepala suku, harus bicara juga. (hlm. 213-214). Dia selalu mengambil posisi majikan vs batur. Wong gede vs wong cilik. Kalau Goenawan sering memasang bahasa arkaik, Kayam lebih banyak menggunakan bahasa Jawa yang besar kemungkinan susah dimengerti orang di luar suku Jawa karena perbedaan rasa bahasa. Misal, mak jrantal, nyuwun samudra pangaksami, utuk-utuk, bloedruk ‘tekanan darah tinggi’, orek-orekan iwik-iwik, pilgrimage ‘perjalanan ziarah’. Kayam juga tidak terlalu memperhatikan bahasa Indonesia yang baik dan benar, contoh prelu ‘perlu’, diganduli, tak bilangi, endok, duduk berjengkeng. Beberapa kata sejenis tidak dimiringkan. Justru dengan pilihan bentuk tulisan pilihan katanya, Kayam membuat tulisannya menjadi ‘tidak berat’, namun dalam. Dengan sudut pandang orang pertama, Kayam mengajak kita masuk ke dalam kebiasaan-kebiasaan khas personal yang banyak dibeberkan dalam tulisannya ini. Bagaimana hubungannya dengan engkoh pemilik resto kaki lima yang ia beri nama Masih Sepuluh. Bagaimana kerinduannya pada Yogya, tukang perak, dawet, cao, dan restoran Masih Sepuluh-nya ketika berada di Filipina. Bagaimana terpesonanya beliau pada Missus Belgeduelbeh, direktris kitchen cabinet di rumah Cipinang Jakarta, akan pandangannya mengenai agama. Halaman 213. Justru dari peristiwa pribadi dan yang sering kita lihat sambil lalu itulah, Kayam mengajak pembacanya tidak hanya berha-ha he-he dengan kelucuan Mr. Rigen tapi juga berhenti sejenak untuk memikirkan, merenungi, dan merefleksi kejadian yang sekitar kita. Mungkin itu sebabnya tulisannya 98% diakhiri dengan titik empat (….).
                Dari konteks kemudian lahir teks yang melalui struktur lahirnya tercermin sikap yang diambil sang penulis dengan hal yang ditulisnya. Menurut Nurgiyantoro (2000), menyerap dari Fowler (1977), struktur batin merupakan makna abstrak dari kalimat (bahasa) yang bersangkutan, merupakan struktur makna yang ingin diungkapkan. Terbaca dari tulisan, Kayam sebagai seorang priyagung Jawa sekaligus intelektual memagari sikapnya dengan; semat, derajat, kramat, dan hormat. Ditambah dengan sakmadyo, ora ngongso, ora ngoyo, hidup sewajarnya. Jadi wajar juga kalau Kayam selalu memposisikan dirinya sebagai orang yang dihormati oleh orang sekitarnya. Beliau merasa mempunyai hormat ‘penghargaan dari masyarakat semata-mata bukan karena semat ’harta’, derajat, dan kramat ‘kekuasaan’ melainkan tulus dari hati karena kepribadiannya yang juga menghormati dan memperhatikan sesamanya’ (Herusatoto, 1991:83-84). Kayam, melalui titik empatnya, memberi pe-er pada pembaca mengenai hal-hal sepele atau yang disepelekan, dari orang-orang yang sepele atau disepelekan, bahwa hal-hal dan orang-orang itu juga menuntut untuk kita pikirkan. Menyangkut juga rasa kepedulian kita yang hampir punah dan kemanusiaan, yang otomatis, apabila berbicara mengenai orang lain maka itu secara tidak langsung terdapat kita di dalamnya. Kayam tidak memandang derajat, apakah itu seorang batur atau tukang ayam panggang ayam keliling atau profesor sekalipun, karena keluguan dan hal kecil itu muncul dari mata rantai sistem yang komplek yang baik langsung atau tidak langsung membentuk sikap kita untuk survive. Kesadaran-kesadaran itu yang akan kita dapat kalau memakai kaca pandang Kayam dalam melihat lingkungannya.

                Goenawan Mohamad dengan pemakaian sudut pandang orang ketiganya, pemakaian ilustrasi karya sastra (“Macbeth”, “Hamlet”, “Babi”) atau peristiwa yang benar-benar terjadi (“Kemal dan Kesepian”, “Bung Karno”, “Le Machine”)   pengutipan drama (“Terbuka”) serta kata-kata mukjizat dari orang besar, pada tingkat deep structure ‘struktur batin’ turut mengajak pembaca merangkai dan menganalogi karya dan peristiwa dengan kondisi sekeliling kita. Meski ungkapannya berlainan—alur yang digunakan Goenawan; memetik peristiwa, atau kisah, baur dengan analisisnya—pembaca dipaksa juga larut dalam konteks yang disampaikan. Pertanyaan selanjutnya, setelah membaca kumpulan kolom Goenawan dan Kayam, sejauh rasa kemanusiaan kita memberi andil pada lingkungan seputar kita? 

No comments: