Jakarta
lebih terik dari biasanya. Panasnya seolah sanggup melelehkan kepala. Kutengok
jam di hp, 13.00 WIB. Pantas. Di luar, matahari sedang garang-garangnya. Aku
bersyukur telah sampai rumah. Rencana meneruskan baca kutangguhkan. Aku memilih
tidur siang dengan jendela terbuka.
Ketika
bangun, dua jam kemudian, matahari telah menepi. Dari jendela kamar, cahaya
tidak lagi menyilaukan. Udara sore ramah seperti kawan lama, ngajak main di
halaman. Tapi nanti dulu, aku mau tahu apa yang kulewatkan selama tidur siang.
Laptop kunyalakan.
Aku
tidak membaca koran, juga mengurangi ngobrol dengan kawan-kawan. Komunikasi
yang kuteguhkan barangkali ya cuma dengan linimasa Twitter ini. Tanda panah
terus kutarik ke bawah. Orang-orang juga mengeluhkan panas yang keterlaluan.
Kabar-kabar lain tak ada kaitannya denganku sampai aku menemukan retweet
seorang teman:
Eh,
ada apa ini? Tiba-tiba ada yang menekan-nekan di bawah perut. Rasanya perih.
Jantung berdebar lebih cepat.
Aku
bergegas mengunjungi @iphankdewe, juga memantau linimasaku sendiri. Belakangan,
aku punya beberapa teman baru dari Ambon yang tweet-tweetnya rajin kuikuti. Ada
@malukupedia, @bloggermaluku, dan @almascatie. Kadang, mereka cerita tentang
sejarah satu tempat atau menjelaskan norma yang lazim berlaku di sana. Tak
jarang pula mereka mengunggah foto makanan atau salah satu pantai yang
karangnya tampak dari permukaan, yang birunya bikin teduh dan rindu, yang
anginnya menyegarkan dan seolah dapat kau rasakan ia melewati tengkukmu. Entah
bagaimana caranya tak jatuh cinta pada pantai-pantai Maluku. Hari ini, aku
menguntit perjalanan @almascatie.
Al
berada di sekitar PLN Ambon sekitar 3 jam, mulai hanya kerumunan sampai terjadi
baku lempar. Ia merutuki penjagaan aparat yang sangat minim.
Tersebar
kabar sebuah gereja terbakar. Kenyataannya, asap hitam berasal dari sebuah
mobil, bukan gedung apapun. Ia menyayangkan tank tentara malah mendatangi
Masjid Al-Fatah, bukannya melerai dua kelompok massa yang mulai merangsek.
Tidak seluruh kota Ambon rusuh. “Massa yang panas” berpusat di Tugu Trikora. Di
sejumlah tempat lainnya, massa berkerumun "saja". Kenapa saja dalam
tanda petik? Karena kita tidak semestinya meremehkan sekelompok orang yang
berkerumun. Mereka rentan terprovokasi. Dengan menjadi gerombolan, identitas
masing-masing orang melebur dan kabur. Mereka mendadak menjadi anonim. Jika
sudah begitu, siapa yang akan bertanggung jawab pada kejahatan yang terjadi?
Satu
jam berlalu, massa di Tugu Trikora masih berkerumun tapi sudah mulai tenang.
Al berjalan
menuju masjid Al-Fatah untuk melihat kondisi pengungsi. Di sana, sudah ada
perempuan dan anak-anak. “mreka terjebak dlm kondisi ini dn tdak bsa pulang
kerumah.” Di Talake, sebuah rumah dan mobil terbakar. Massa masih berkumpul.
Petak 10 lengang. AY Patty, Maranatha, sampai Joas “situasi tidak terlalu
mencekam”. Hanya petunjuk jalan dirusak.
Konsentrasi
massa di sekitar Al-Fatah sudah mulai menyusut. Di Jembatan Batu Merah bahkan
sudah tidak ada kerumunan. Galunggung tenang.
Apa
kata Detik.com? “Tembakan terdengar dari kawasan Diponegoro, Pohon Pule,
Airmata Cina, dan Talake. Warga makin banyak yang mengungsi di Masjid Raya
Alfatah, Masjid Jami, Kudamati, Karangpanjang, Soya dan kawasan lainnya yang
aman.” Pada berita lain, Detik.com menulis, “Polisi mulai berjaga di sejumlah
ruas jalan. Sejumlah orang membawa parang juga tampak bergerombol.”
Kecaman
pada MetroTV yang mengulang-ulang tayangan pada saat kericuhan memuncak,
semakin nyaring. Teman-teman sepakat kondisi di lapangan sudah reda. Tak pelak,
MetroTV dianggap "memana-manasi daerah lain yang tidak ricuh".
Sebagian orang bertanya, tak adakah niatan untuk melakukan peace journalism?
Pemberitaan media dianggap lebay dan terlalu membesar-besarkan. Aku sendiri
belum melihat langsung tayangan yang sedang dibicarakan ini.
Televisiku
memang bagus untuk siaran MetroTV, sedangkan yang lainnya tidak. Saran Tomy
untuk menonton Redaksi Kontroversi pun tak dapat kupenuhi. Aku menunggu
Suara Anda dan Metro Hari Ini, atau Breaking News, kalau ada. Sungguh sial
beruntun hari ini. Aku baru ingat ini Minggu. Akhir pekan. Pemirsa TV harus
dibuat lebih santai. Tak boleh ada kerut di dahi. Kasus korupsi yang
menyakitkan hati itu harus dilucu-lucukan lewat Democrazy. Atau sekalian pilih
pertunjukan hiburan. Kahitna 25 tahun sekarang. Dua bulan sebelum konser, tiket
sudah habis terjual. Hedi Yunus cerita kenapa dia “dirumahkan” pada waktu itu.
Kalimat Hedi Yunus timbul tenggelam, diselingi layar televisi yang mem-biru
sekian detik. Di antara tontonan-tontonan itu aku sempat melihat tayangan
peristiwa di Ambon hari ini. Dua kali. Sekarang aku beruntung? Tidak. Melihat
kerumunan, tangan mengacungkan batu, dan suara tembakan sungguh membuat gentar.
Hanya
karena televisi menyajikan gambar, tak lantas demikian yang benar terjadi. Aku
setuju dengan Heru dan kawan-kawan lainnya, media menjadikan peristiwa ini
barang dagangan. Mereka “mendulang keuntungan sebesar-besarnya” dari sana.
Alih-alih memberi kabar yang proposional, mereka justru memprovokasi.
Mengobarkan ricuh.
Tapi,
tunggu, bukankah hal itu menyadarkan kita bahwa kita butuh kabar-kabar
alternatif yang, salah satunya, sedang dilakukan teman-teman, yaitu bertwitter?
Aku tak pandai memberi label. Apakah itu citizen journalismatau entah apa
sebutannya, aku tak peduli benar. Hanya aku tahu, yang mereka lakukan berharga.
Mereka memperdengarkan suara lain.
Hanya
saja aku tak mendengar suara perempuan. Mereka cuma sayup terdengar, kalau
tidak hilang sama sekali. Apakah perempuan yang terjebak di Al-Fatah ada yang
terluka? Di mana rumah mereka? Siapa yang memastikan mereka dapat kembali
dengna aman? Apakah ibu hamil, anak-anak, dan kelompok difabel mendapat
penanganan yang layak? Tak adakah satupun, satu saja, yang menceritakan keadaan
mereka? Aku setuju juga dengan Sofie, laki-laki dan perempuan mendefinisikan
rasa aman dengan cara yang berbeda. Meminta aparat segera meredakan kekacauan
itu penting. Tapi jangan lupa juga, dampak dari kekacauan telah nyata di depan
mata. Silakan aparat berjaga, datangkan bantuan dari Makassar, tapi juga jangan
lupakan korban di pengungsian. Tolong, perempuan, berkabarlah. Berita yang
remang-remang tak akan memberi petunjuk bagi kita. Beritahu kebutuhan-kebutuhan
kalian. Kalau tidak dapat mengandalkan pemerintah, barangkali ada satu dua
pihak di luar sana yang dapat menggenapi bantuan. Ayo kita desak semua media
komunikas—facebook, twitter, hp—menjadi jembatan kita. Jangan sampai kita
berkiblat pada media yang menampilkan korban hanya sebagai sekumpulan angka.
Beberapa
teman perempuan kadang berkabar lewat Facebook. Entah kenapa hari ini tak
nampak satu pun. Begitu juga Joan Pesulima. “Aku lapar,” itu yang pertama kali
kukatakan pada Joan begitu kami bertemu, pun dia teman pertama yang kutemui
begitu aku sampai Ambon tiga tahun lalu. Dia lantas mengajakku naik becak ke
sebuah rumah makan yang membolehkan kami memilih sendiri ikan untuk dibakar,
hidangan makan siang yang kutandaskan dengan sukarela. Aku bisa makan ini tiga
kali sehari, selama di sini, pikirku. Juga kukatakan pada Joan tanpa malu. Kami
meneruskan perjalanan ke Rumah Kopi Joas. Joan menyarankan aku memesan kopi
Rarobang, kopi dengan aroma jahe dan taburan kenari. Rarobang datang bersama
kue aku-lupa-namanya yang sekeras batu tapi akan melunak setelah dicelup dalam
Rarobang. Sebelum kopiku dingin, aku telah menyadari, aku mencintai kota ini.
Ya, bahkan Joan, yang sudah kusimpan tiga nomor hp-nya, tak dapat kuhubungi
satupun.
Aku
meninggalkan pesan di dinding Facebook-nya. Tiga jam kemudian dia baru jawab.
Dia baru datang dari luar kota untuk beribadah. “Kembali tak bisa lewat kota,”
terangnya, “harus muter lewat jurang kiri-kanan.”
“kita
udah cape pindah2 terus, liat api dan segalanya kita udah trauma, tadi aja
teman2 wartwan di ambon meliput dengan air mata, cukuplah .... jangan lagi ..
liat tadi itu kita trauma banget, soalnya mereka lempar2, tapi sebut nama
Tuhan, bakar2 sebut nama Tuhan, seakan ada pilihan, agama lagi, ya ada apa2 kan
nanti polisi sementara proses, bukan habis itu lalu bikin kaco, kasian, ada
anak2 kecil yang pontang panting ... gila benar ni orang2.” Kurasa bukan cuma
Joan yang merasakan ini. Kita pun muak sudah nama tuhan menjadi komoditas.
Harapan
untuk mendapatkan titik terang sepertinya akan membuat kita menunggu. Menggantungkan
harapan pada pemerintah untuk memberi kejelasan sepertinya akan membuat kita
lebih lama lagi menunggu. Sampai semalam, Walikota tak tahu tentang korban
meskipun ia sedang berada di sana. "Nanti, nanti," jawabnya pada
sebuah wawancara yang disiarkan dari Masjid Al-Fatah, "kami belum
tahu." Untuk membentuk puzzle yang berserak ini, tak ada salahnya kita
mengikuti sekumpulan tweet dari kak @LianGogali dengan tagar #PrayForAmbon:
Rusuh
Ambon dipicu lambatnya klarifikasi polisi thdp pnyebab kematian tukang ojek
shgga menimbulkn ketegangan ketegangn siang saat aksi palang
jalan+balaspukul thdp supir angkot,smtra tdk jls tukang ojek mninggal krn tbrak
or aniaya
aksi saling serang pukul 2.45 saat massa terkumpul+polisi msh lmbat klarifikasi kej.Korban 25 org luka2,di RS.bbrpa kritis
AktivisAmbon:ada pyebaran isu yg myesatkan&timbulkn ketegangan antar komunitas&lambatx aparat/pembiaran mjd pemicu kerusuhn
dalam kondisi ini #SalingMelindungi antar komunitas yg berbeda agama ttp ditunjukkan warga Ambon
Di AmbonPlaza,yg mayoritas warga Muslim #Melindungi warga Kristen,di RS Umum Haulusi yg may.Kristen #Melindungi warga Muslim
Tukangojek yg mninggal ad/ krn tabrakan bkn krn dibunuh.rumor bredar krn dibunuh shgg tmbl ketegangn antranakmuda beda agama
klarifikasi satu anak muslim yg dikbrkan mninggal bukan krn dibunuh tp krn sakit-berita resmi POLDA Ambon
aksi saling serang pukul 2.45 saat massa terkumpul+polisi msh lmbat klarifikasi kej.Korban 25 org luka2,di RS.bbrpa kritis
AktivisAmbon:ada pyebaran isu yg myesatkan&timbulkn ketegangan antar komunitas&lambatx aparat/pembiaran mjd pemicu kerusuhn
dalam kondisi ini #SalingMelindungi antar komunitas yg berbeda agama ttp ditunjukkan warga Ambon
Di AmbonPlaza,yg mayoritas warga Muslim #Melindungi warga Kristen,di RS Umum Haulusi yg may.Kristen #Melindungi warga Muslim
Tukangojek yg mninggal ad/ krn tabrakan bkn krn dibunuh.rumor bredar krn dibunuh shgg tmbl ketegangn antranakmuda beda agama
klarifikasi satu anak muslim yg dikbrkan mninggal bukan krn dibunuh tp krn sakit-berita resmi POLDA Ambon
Tiga
tahun yang lalu, pada satu malam yang basah, saya berbincang dengan Abidin
Wakano di lobi penginapan yang saya tempati selama di Ambon. Antropolog yang
pada saat itu menjabat sebagai Direktur Eksekutif Lembaga Antar-Iman Maluku
tersebut, mengatakan, “Di bumi ini ada dua hal yang paling sensitif: pertama,
agama, kedua, etnis. Kalau tidak diberi label agama, konflik tidak akan kuat.”
Aku
tidak tahu Direktur Eksekutif Lembaga Antar-Iman sekarang dijabat oleh siapa.
Namun, Kak Lian mengakhiri rangkaian tweetnya dengan mengutip pernyataan dari
Lembaga Antar-Iman Maluku:
Kalo
dolo katong nekad mati u perang, skrg katong hrs nekad mati u damai dan aman.
Jgn lagi Maluku dihancurkan. Kepalkan tangan, berjuang bersama, dan bilang
TIDAK pada konflik.
#PrayForAmbon
#PrayForAmbon
Bila
hendak lengkapi kabar, sila kunjung www.saling-silang.com yang juga merangkum
kabar tentang peristiwa di Ambon kemarin.
No comments:
Post a Comment