Namanya Luthfi. Usia 18 tahun. Dengan make up tebal dan
berkilauan dia tampak mencolok di antara tamu-tamu yang sedang menikmati makan
malam, seusai konferensi pers Jember Fashion Carnaval (JFC). “Yang tadi itu
baru 10%-nya,” katanya mengomentari kostum yang tadi ia bawakan, sambil menyuap
sate ayam.
Pemuda yang baru saja menamatkan SMA ini lebih memilih
mengikuti workshop pertunjukan yang telah mendunia ini ketimbang meneruskan
pendidikannya. “Saya suka modelling. Mudah-mudahan saya bisa berkarir di sana,”
ia berucap malu-malu. Luthfi berharap JFC dapat menjadi wahana untuk
mengeksplorasi potensinya. Penampilannya malam ini bukanlah hal yang asing
baginya, ia telah berkali menjadi ikon dari karnaval-karnaval yang diadakan di
kota asalnya, Banyuwangi.
***
Minggu, 2 Agustus 2009. Tepian jalan menuju alun-alun telah
disesaki masyarakat Jember, barangkali juga dari kota-kota lain, seperti saya.
Bersama 3 teman lain, kami datang dari Jakarta hanya untuk melihat pertunjukan
fashion yang digagas Dynand Fariz ini. Beruntung seorang teman memberi saya
akses masuk ke stage utama yang akan dipergunakan seluruh peserta memperagakan
kreasi mereka sebelum menempuh “catwalk terpanjang di dunia”, yakni 3,6 km.
Dan benar saja apa yang dikatakan Luthfi semalam. Siang itu
saya hampir tidak mengenalinya. Luthfi menjelma menjadi sesosok dengan sayap
bertepi bulu dan dedaunan terkepak. Kepalanya angkuh menengadah, meskipun
senyum samar-samar masih membayang, digamit wadah terbuat dari anyaman rotan
dan bola hijau sebesar semangka. Dengan mahkota berpuncak beberapa helai bulu
dan sepatu boot mengembung Luthfi yang semalam bercerita malu-malu di sebelah
saya tampak berbeda sama sekali.
Apa saja seolah sah dipungut menjadi bahan busana yang
dipertunjukkan pada hari itu. Terpal. Daun. Bulu. Jahe. Bambu. Songket. Kain
berbagai jenis. Botol infus. Piring. CD bekas. Temali. Namun, ini bukan
pertunjukan tanpa konsep. Panitia menetapkan 8 tema yang bisa dipilih oleh
peserta. Tema itu tidak datang begitu saja dari ruang kosong. Ranah Minang,
misalnya. Dynand Faris, yang mengepalai Jember Fashion Carnaval Council,
mengungkap, “Kekayaan Indonesia sebagai pesona yang tidak ada duanya di dunia
dengan latar belakang budaya dan sejarah. Ranah Minang dipresentasikan dalam
kesan mewah, fantastis, dan monumental. Warna emas, hijau, dan hitam ajan
mengingatkan kejayaan Indonesia pada zaman monarki.”
Sementara itu, Hard-Soft, yang diadopsi menjadi bawahan
army look, atasan putih, dan dipadu dengan asesori macam botol infus atau
bendera palang merah, mengajak kita untuk menabur kedamaian di mana pun berada.
“Perdamaian selalu menjadi impian semua orang. Karena itu, hentikan perang!
akhiri perang! Army di bagian bawah menjadi simbol korban perang, kelumpuhan
akibat terkena tembakan, dan lain-lain. Warna putih berada di atas dan menjadi
simbol atas penyelamatan dan perlindungan.”
Tema-tema lain juga menyiratkan persoalan-persoalan terkini
yang dihadapi dunia: Upper Ground (krisis pangan), Animal Plants (kelestarian
alam), Off Life (kreativitas yang dicemooh/dipinggirkan), Container (pasar
bebas dan perkembangan industri), Techno Eth (kemajuan teknologi tanpa
meninggalkan akar budaya), dan Rhythm (pesan perdamaian melalui harmoni musik).
Kedelapan tema mewakili konsep pagelaran tahun kedelapan ini dan diikat dalam
satu tema utama, “World Unity”, yang berarti satukan dan damaikan dunia. “Tema
ini merupakan pesan dalam mengantisipasi segala hal yang berkembang di dunia
baik dari masalah sosial, ekonomi, budaya, maupun politik. Sekaligus
mengingatkan kita akan dampak isu global warming, krisis pangan, dan
lain-lain.”
JFC tidak melulu pertunjukan fashion, desain busana yang
ditopang musik, gerakan, dan ekspresi, menjadikan JFC sebagai salah satu
karnaval berkelas dunia. Menapaki usia kedelapan, JFC telah mengibarkan namanya
di panggung-panggung pagelaran nasional dan Internasional, sebut saja Jambore
Pramuka Sedunia di Londong, Shanghai Toursm Festival 2008, Indonesia
Independent Day di Mumbay, Bali Fashion Week, dan pentas-pentas yang lain.
Tepuk tangan terakhir telah kehilangan gema. Luthfi
barangkali telah melampaui separuh catwalk. Saya membubarkan diri bersama
undangan yang berteduh di bawah tenda dan fotografer yang berpesta. Saya tak
kecewa biarpun tak sempat melambaikan salam berpisah. Semoga kami berjumpa di
parade lainnya.
Ditulis untuk Luxo.

No comments:
Post a Comment