Klik Bila Perlu

Friday, July 04, 2014

JFC: Tekad Damaikan Dunia


Namanya Luthfi. Usia 18 tahun. Dengan make up tebal dan berkilauan dia tampak mencolok di antara tamu-tamu yang sedang menikmati makan malam, seusai konferensi pers Jember Fashion Carnaval (JFC). “Yang tadi itu baru 10%-nya,” katanya mengomentari kostum yang tadi ia bawakan, sambil menyuap sate ayam.

Pemuda yang baru saja menamatkan SMA ini lebih memilih mengikuti workshop pertunjukan yang telah mendunia ini ketimbang meneruskan pendidikannya. “Saya suka modelling. Mudah-mudahan saya bisa berkarir di sana,” ia berucap malu-malu. Luthfi berharap JFC dapat menjadi wahana untuk mengeksplorasi potensinya. Penampilannya malam ini bukanlah hal yang asing baginya, ia telah berkali menjadi ikon dari karnaval-karnaval yang diadakan di kota asalnya, Banyuwangi.

***

Minggu, 2 Agustus 2009. Tepian jalan menuju alun-alun telah disesaki masyarakat Jember, barangkali juga dari kota-kota lain, seperti saya. Bersama 3 teman lain, kami datang dari Jakarta hanya untuk melihat pertunjukan fashion yang digagas Dynand Fariz ini. Beruntung seorang teman memberi saya akses masuk ke stage utama yang akan dipergunakan seluruh peserta memperagakan kreasi mereka sebelum menempuh “catwalk terpanjang di dunia”, yakni 3,6 km.

Dan benar saja apa yang dikatakan Luthfi semalam. Siang itu saya hampir tidak mengenalinya. Luthfi menjelma menjadi sesosok dengan sayap bertepi bulu dan dedaunan terkepak. Kepalanya angkuh menengadah, meskipun senyum samar-samar masih membayang, digamit wadah terbuat dari anyaman rotan dan bola hijau sebesar semangka. Dengan mahkota berpuncak beberapa helai bulu dan sepatu boot mengembung Luthfi yang semalam bercerita malu-malu di sebelah saya tampak berbeda sama sekali.

Apa saja seolah sah dipungut menjadi bahan busana yang dipertunjukkan pada hari itu. Terpal. Daun. Bulu. Jahe. Bambu. Songket. Kain berbagai jenis. Botol infus. Piring. CD bekas. Temali. Namun, ini bukan pertunjukan tanpa konsep. Panitia menetapkan 8 tema yang bisa dipilih oleh peserta. Tema itu tidak datang begitu saja dari ruang kosong. Ranah Minang, misalnya. Dynand Faris, yang mengepalai Jember Fashion Carnaval Council, mengungkap, “Kekayaan Indonesia sebagai pesona yang tidak ada duanya di dunia dengan latar belakang budaya dan sejarah. Ranah Minang dipresentasikan dalam kesan mewah, fantastis, dan monumental. Warna emas, hijau, dan hitam ajan mengingatkan kejayaan Indonesia pada zaman monarki.”

Sementara itu, Hard-Soft, yang diadopsi menjadi bawahan army look, atasan putih, dan dipadu dengan asesori macam botol infus atau bendera palang merah, mengajak kita untuk menabur kedamaian di mana pun berada. “Perdamaian selalu menjadi impian semua orang. Karena itu, hentikan perang! akhiri perang! Army di bagian bawah menjadi simbol korban perang, kelumpuhan akibat terkena tembakan, dan lain-lain. Warna putih berada di atas dan menjadi simbol atas penyelamatan dan perlindungan.”

Tema-tema lain juga menyiratkan persoalan-persoalan terkini yang dihadapi dunia: Upper Ground (krisis pangan), Animal Plants (kelestarian alam), Off Life (kreativitas yang dicemooh/dipinggirkan), Container (pasar bebas dan perkembangan industri), Techno Eth (kemajuan teknologi tanpa meninggalkan akar budaya), dan Rhythm (pesan perdamaian melalui harmoni musik). Kedelapan tema mewakili konsep pagelaran tahun kedelapan ini dan diikat dalam satu tema utama, “World Unity”, yang berarti satukan dan damaikan dunia. “Tema ini merupakan pesan dalam mengantisipasi segala hal yang berkembang di dunia baik dari masalah sosial, ekonomi, budaya, maupun politik. Sekaligus mengingatkan kita akan dampak isu global warming, krisis pangan, dan lain-lain.”

JFC tidak melulu pertunjukan fashion, desain busana yang ditopang musik, gerakan, dan ekspresi, menjadikan JFC sebagai salah satu karnaval berkelas dunia. Menapaki usia kedelapan, JFC telah mengibarkan namanya di panggung-panggung pagelaran nasional dan Internasional, sebut saja Jambore Pramuka Sedunia di Londong, Shanghai Toursm Festival 2008, Indonesia Independent Day di Mumbay, Bali Fashion Week, dan pentas-pentas yang lain.

Tepuk tangan terakhir telah kehilangan gema. Luthfi barangkali telah melampaui separuh catwalk. Saya membubarkan diri bersama undangan yang berteduh di bawah tenda dan fotografer yang berpesta. Saya tak kecewa biarpun tak sempat melambaikan salam berpisah. Semoga kami berjumpa di parade lainnya.


Ditulis untuk Luxo.

No comments: