Klik Bila Perlu

Saturday, June 28, 2014

Pelukis dan Paris

Seorang pelukis, lama berdiam di Paris. Namun sudah lima tahun ini, ia tidak lagi melukis. Ia ingin menulis sajak. Menuliskan Kota Paris dan segala keadaannya. Kota Paris manis yang kini beruban tertutup salju.

Pandangnya merasakan putih dalam gelap kamar. Keputihan kota tertutup salju di luar.

Ke kiri atau ke kanan, ke pusat kota? Salju masih jatuh.

Sekali, lima hari yang lalu pada malam hari ia bertemu dengan gadis itu, ketika mereka duduk di teras sebuah restoran di tepi sungai Seine menghadap Notre-Dame, yang terpacak menjulang ke langit, putih ditimpa salju dan sinar lampu sorot dari bawah lapangan.

Setelah di luar dalam salju jatuh, mereka jalan dengan tiada tujuan.

Itu tadi malam. Ia melangkah dalam salju.

Dalam cerpen "Salju di Paris" ini, yang diambil dari salah satu kumpulan cerpennya yang berjudul Salju di Paris juga, Sitor mengidentikkan kata salju itu dengan dingin.

Ia berpaling. Memang salju masih jatuh.…dingin sekali dan nyaman.

Udara sedingin es menangkupnya di luar.

Mungkin dingin di sini bukan hanya dingin yang membekukan daun telinga. Akan tetapi, dingin yang membuat gigil juga hubungan orang-orang. Tidak ada tindak komunikasi. Masing-masing pribadi sibuk dengan urusannya. Mereka hidup dalam dunianya sendiri. Keberadaan orang lain terasa mengherankan karena selama ini tiap-tiap diri menerapkan garis lugas. Tidak ada persentuhan. Verbal ataupun nonverbal.

Ia tercengang sejenak. Berapa lama ia sudah tak disapa orang?

Tapi orang tidak bertanya.
Tapi ia ingin ditanyai, ia sendiri ingin menanya.

Ingin ia ditanyai hal cintanya, kesetiaannya, pengkhianatannya dan persahabatannya. Tapi tak ada yang bertanya. Sedang ia sudah lama berhenti bertanya pada dirinya.

Pun Margareth, ia ingin menanyai dia. Tapi Margareth diam dan rupanya tak merasa perlu bertanya. Dan bercerita ia tak bisa.

Tandus tanpa bekas manusia, melainkan hanya kebosanan hidup. Dibenahi, ditiduri, dibenahi, ditiduri. Tak pernah bercakap, tak pernah ditanya dan ditanyai.

Latar yang dipilih untuk cerpen ini adalah sebuah hotel. Orang bebas keluar masuk. Tak ada keharusan untuk mengenal tetangga kamar. Atau pelayan yang setiap hari membereskan kamar. Atau menyapa office boy yang selalu dilewati tiap kali keluar. Meskipun telah tinggal lima tahun atau lebih. Semua hal dilakukan berdasarkan kepentingan saja.
Tamu-tamu masuk.

Mereka masuk dengan tenang bersama angin dingin satu per satu, melalui pintu separo terbuka, yang tiap kali berdetak tertutup disorong per, menggosok-gosok tangan yang kedinginan, sambil menggosok-gosokan laras, keras-keras dihantamkan di ambang membuang lumpur bercampur salju kotor.

Andre sudah ada dan agaknya sengaja sibuk mengatur botol-botol dalam rak. Madame trak tampil ke depan. Seluruh berhenti dan berputar pada sepinya, menghadapi daun meja dari pualam.

            Padahal salju itu pucat. Seperti pucatnya hubungan satu sama lain. Salju yang ingin dikatakan Sitor pun terlampau dingin. Bahkan mungkin lebih dingin dari sajaknya Goenawan Muhamad.

Dingin tak tercatat
Pada termometer

            Beberapa kalimat merupakan kalimat panjang. Seperti slow motion memberi kesan lambat dan beku. Akan tetapi yang lebih banyak dijumpai adalah kalimat-kalimat pendek yang individualis. Tidak memberi kesempatan untuk bersinggungan dengan—baik kalimat, kata, maupun orang—lain.
            Akhirnya Sitor menutupnya dengan paragraf yang sangat metaforis.

Salju telah tebal di jalanan dan di atap Paris. Ia berjalan, lalu berhenti menoleh. Jejaknya mencekam dalam salju. Beberapa merpati terbang kebingungan kian kemari mencari makanan seperti biasa di musim dingin kalau bumi tertutup salju.

Salju jatuh, tertimbun sedikit demi sedikit meliputi lubang jejak, menutupi lumpurnya, hingga putih kembali. Putih seperti jalan sunyi di hadapannya. 

No comments: