Sebuah karya, menurut Lotman, hubungannya tidak hanya
dipelajari secara intratekstual, melainkan juga ekstratekstual[ii]. Seperti juga yang telah diungkapkan Sapardi pada pengantar untuk
kumpulan sajaknya yang bertitel Hujan Bulan Juni ini bahwa seorang
penyair belajar dari banyak pihak: keluarga, penyair lain, kritikus, teman,
pembaca, tetangga, masyarakat luas, koran, televisi, dan sebagainya[iii].
Dan sesuatu yang mengikat sajak-sajaknya adalah kesatuan tematiknya
tentang manusia. Namun, ada hal yang sepertinya luput dari pengucapan
(eksplisit) Sapardi yaitu bahwa hubungan manusia tidak hanya berkisar antara
manusia dan manusia dan manusia. Pendek kata, manusia melulu atau (senantiasa)
manusia selalu. Menilik dari sajak-sajak yang ditulisnya dalam rentang waktu 30
tahun ini, banyak juga ia mengatakan tentang maut, waktu, bunga, malam, dan
lain-lain hal yang (seakan-akan) berada di luar manusia[iv].
Jadi mungkin lebih tepatnya melalui sajak-sajak ini Sapardi berkisah tentang
hubungan manusia dengan tuhan, dengan hidup dan mati, dan, tentu saja, dengan
alam semesta.
Semesta di sini tidak
semata-mata sebagai konstruksi metaforik, melainkan benar-benar berbicara
tentang hubungan manusia dengan semesta itu sendiri. Dari sekian banyak lanskap
semesta yang Sapardi pakai untuk mengiaskan tentang manusia, dalam sajak hutan,
jalak, dan daun jambu[v] ini juga Sapardi
berbicara mengenai hubungan manusia dengan semesta sebagai lingkungannya,
tempat manusia hidup bersama-sama.
Judul sajak ini adalah hutan, jalak, dan daun jambu.
Dari judulnya saja kita dapat melihat 3 komponen alam yang mungkin setiap hari
berkeliaran di halaman atau di tempat-tempat yang sering kita lewati. Hujan,
salah satu kejadian alam dengan melibatkan satu bagian penting dalam hidup
manusia: air. Jalak mewakili fauna dan daun jambu untuk flora, dua hal yang
sering dikaitkan juga dalam hidup manusia, sebagai 3 makhluk hidup yang sama-sama
bernaung di bawah langit. Lalu hubungan seperti apa yang ingin dibicarakan sang
penyair dengan pembacanya?
Pada larik pertama, Hujan turun semalaman. Paginya.
Ada yang dipertentangkan pada larik ini. Semalaman dan paginya.
Apa yang terjadi pada pagi hari ketika hujan menggigilkan udara sepanjang
malam? jalak berkicau dan daun jambu bersemi (larik kedua). Masih
terdapat keselarasan antara (meskipun) hujan sepanjang malam, jalak yang
berkicau, dan daun jambu yang bersemi[vi].
Pagi menjadi semarak justru setelah hujan turun semalaman.
Mereka tidak mengenal gurindam/ dan peribahasa. Gurindam dan peribahasa adalah dua macam kesenian, kesusastraan,
hasil kebudayaan manusia yang beradab. Di sini manusia diagungkan sebagai
sebuah sosok yang lebih tinggi dari mereka. Jadi apa yang kemudian bisa mereka
lakukan untuk manusia?
Tapi (mereka)
menghayati/ adat kita yang purba. Setiap manusia selalu menginginkan
kebahagiaan bersemayam dalam hidupnya. Setiap doa, harapan, dan pekerjaan yang
dilakukannya adalah demi kebahagiaan. Kemudian ditegaskan dengan agar kita,
manusia, merasa bahagia. Fungsi dari penggalan ini ada dua; pertama,
menegaskan kata adat kita (manusia yang hidup dengan kekinian) dengan yang
purba (kehendak untuk membuat diri bahagia tadi), kedua, menjadi semacam
gugatan kecil yang ditujukan Sapardi kepada kita, pembaca, dan pastinya dirinya
sendiri atau bahkan siapa saja yang merasa sebagai Manusia. Mereka yang
dinomorduakan dari manusia, melakukan banyak hal demi kepuasan hidup manusia
dengan tulus. Bagaimana dengan manusianya? Dan apa yang menjadi tolak ukur
mereka ‘tidak berpamrih’?
Pada larik kesembilan, (lanjutan dari tidak pernah
bisa menguraikan) hakikat kata-kata mutiara, tapi tahu.
Galibnya kata-kata mutiara (hampir bisa dipastikan) berisi nasihat dan ajakan
untuk berbuat kebaikan. Tapi sayangnya, hal tersebut muncul dari luar diri
kita, bukan dengan tulus terbit dari lubuk hati. Dan kelebihan itu yang
dimiliki oleh semesta yang diwakili hutan, jalak, dan daun jambu. Meskipun
tidak mengerti ajaran dan ajakan tentang kebaikan, mereka tidak menuntut tapi
justru memberikan diri mereka demi kepentingan manusia.
Larik kesembilan dan selanjutnya adalah pengulangan pola
sintaksis[vii]
demi pencapaian efek semantis dan penegasan
makna atau pesan yang ingin disampaikan sang penyair pada larik
sebelumnya.
Pemenggalan
‘tidak pada tempatnya’ yang terjadi pada sajak ini menyaran pada pertentangan
yang disengaja. Selain pada larik pertama yang telah dibicarakan di atas, pada
larik keempat, (lanjutan dari mereka tidak mengenal gurindam) dan
peribahasa, tapi menghayati, pada larik kelima, adat kita yang purba,
pada larik ketujuh, agar kita, manusia, merasa
bahagia. Mereka, dan pada larik kesepuluh, kapan harus
berbuat sesuatu, agar kita. Sajak ini seakan meminta kita
untuk kembali memikirkan hubungan manusia dengan alam semesta yang meskipun
tidak lebih beradab dari manusia itu sendiri tapi mereka tahu bagaimana membuat
manusia bahagia. Semesta dengan caranya sendiri mempunyai cara untuk
mengingatkan manusia. Apakah itu dengan kemarau tak berujung ataukah banjir
yang tak terbendung. Lantas sudahkah pagi ini kita menyapa mereka dengan
mengucapkan selamat pagi sambil menyiram bunga dan tersenyum pada matahari?
[v] Lihat Sapardi Djoko Damono, “hujan, jalak, dan daun jambu” dalam Hujan
Bulan Juni, Jakarta, Grasindo, 1994: 100.

No comments:
Post a Comment