Klik Bila Perlu

Sunday, June 08, 2014

Antara Kita dan Mereka yang Tidak Mengenal Gurindam


tentang apalagi puisi kalau tidak tentang mereka, manusia.[i]

Sebuah karya, menurut Lotman, hubungannya tidak hanya dipelajari secara intratekstual, melainkan juga ekstratekstual[ii]. Seperti juga yang telah diungkapkan Sapardi pada pengantar untuk kumpulan sajaknya yang bertitel Hujan Bulan Juni ini bahwa seorang penyair belajar dari banyak pihak: keluarga, penyair lain, kritikus, teman, pembaca, tetangga, masyarakat luas, koran, televisi, dan sebagainya[iii]. Dan sesuatu yang mengikat sajak-sajaknya adalah kesatuan tematiknya tentang manusia. Namun, ada hal yang sepertinya luput dari pengucapan (eksplisit) Sapardi yaitu bahwa hubungan manusia tidak hanya berkisar antara manusia dan manusia dan manusia. Pendek kata, manusia melulu atau (senantiasa) manusia selalu. Menilik dari sajak-sajak yang ditulisnya dalam rentang waktu 30 tahun ini, banyak juga ia mengatakan tentang maut, waktu, bunga, malam, dan lain-lain hal yang (seakan-akan) berada di luar manusia[iv]. Jadi mungkin lebih tepatnya melalui sajak-sajak ini Sapardi berkisah tentang hubungan manusia dengan tuhan, dengan hidup dan mati, dan, tentu saja, dengan alam semesta.
Semesta di sini tidak semata-mata sebagai konstruksi metaforik, melainkan benar-benar berbicara tentang hubungan manusia dengan semesta itu sendiri. Dari sekian banyak lanskap semesta yang Sapardi pakai untuk mengiaskan tentang manusia, dalam sajak hutan, jalak, dan daun jambu[v] ini juga Sapardi berbicara mengenai hubungan manusia dengan semesta sebagai lingkungannya, tempat manusia hidup bersama-sama.
Judul sajak ini adalah hutan, jalak, dan daun jambu. Dari judulnya saja kita dapat melihat 3 komponen alam yang mungkin setiap hari berkeliaran di halaman atau di tempat-tempat yang sering kita lewati. Hujan, salah satu kejadian alam dengan melibatkan satu bagian penting dalam hidup manusia: air. Jalak mewakili fauna dan daun jambu untuk flora, dua hal yang sering dikaitkan juga dalam hidup manusia, sebagai 3 makhluk hidup yang sama-sama bernaung di bawah langit. Lalu hubungan seperti apa yang ingin dibicarakan sang penyair dengan pembacanya?
Pada larik pertama, Hujan turun semalaman. Paginya. Ada yang dipertentangkan pada larik ini. Semalaman dan paginya. Apa yang terjadi pada pagi hari ketika hujan menggigilkan udara sepanjang malam? jalak berkicau dan daun jambu bersemi (larik kedua). Masih terdapat keselarasan antara (meskipun) hujan sepanjang malam, jalak yang berkicau, dan daun jambu yang bersemi[vi]. Pagi menjadi semarak justru setelah hujan turun semalaman. 
Mereka tidak mengenal gurindam/ dan peribahasa. Gurindam dan peribahasa adalah dua macam kesenian, kesusastraan, hasil kebudayaan manusia yang beradab. Di sini manusia diagungkan sebagai sebuah sosok yang lebih tinggi dari mereka. Jadi apa yang kemudian bisa mereka lakukan untuk manusia?
Tapi (mereka) menghayati/ adat kita yang purba. Setiap manusia selalu menginginkan kebahagiaan bersemayam dalam hidupnya. Setiap doa, harapan, dan pekerjaan yang dilakukannya adalah demi kebahagiaan. Kemudian ditegaskan dengan agar kita, manusia, merasa bahagia. Fungsi dari penggalan ini ada dua; pertama, menegaskan kata adat kita (manusia yang hidup dengan kekinian) dengan yang purba (kehendak untuk membuat diri bahagia tadi), kedua, menjadi semacam gugatan kecil yang ditujukan Sapardi kepada kita, pembaca, dan pastinya dirinya sendiri atau bahkan siapa saja yang merasa sebagai Manusia. Mereka yang dinomorduakan dari manusia, melakukan banyak hal demi kepuasan hidup manusia dengan tulus. Bagaimana dengan manusianya? Dan apa yang menjadi tolak ukur mereka ‘tidak berpamrih’?
Pada larik kesembilan, (lanjutan dari tidak pernah bisa menguraikan) hakikat kata-kata mutiara, tapi tahu. Galibnya kata-kata mutiara (hampir bisa dipastikan) berisi nasihat dan ajakan untuk berbuat kebaikan. Tapi sayangnya, hal tersebut muncul dari luar diri kita, bukan dengan tulus terbit dari lubuk hati. Dan kelebihan itu yang dimiliki oleh semesta yang diwakili hutan, jalak, dan daun jambu. Meskipun tidak mengerti ajaran dan ajakan tentang kebaikan, mereka tidak menuntut tapi justru memberikan diri mereka demi kepentingan manusia.
Larik kesembilan dan selanjutnya adalah pengulangan pola sintaksis[vii] demi pencapaian efek semantis dan penegasan  makna atau pesan yang ingin disampaikan sang penyair pada larik sebelumnya.
Pemenggalan ‘tidak pada tempatnya’ yang terjadi pada sajak ini menyaran pada pertentangan yang disengaja. Selain pada larik pertama yang telah dibicarakan di atas, pada larik keempat, (lanjutan dari mereka tidak mengenal gurindam) dan peribahasa, tapi menghayati, pada larik kelima, adat kita yang purba, pada larik ketujuh, agar kita, manusia, merasa bahagia. Mereka, dan pada larik kesepuluh, kapan harus berbuat sesuatu, agar kita. Sajak ini seakan meminta kita untuk kembali memikirkan hubungan manusia dengan alam semesta yang meskipun tidak lebih beradab dari manusia itu sendiri tapi mereka tahu bagaimana membuat manusia bahagia. Semesta dengan caranya sendiri mempunyai cara untuk mengingatkan manusia. Apakah itu dengan kemarau tak berujung ataukah banjir yang tak terbendung. Lantas sudahkah pagi ini kita menyapa mereka dengan mengucapkan selamat pagi sambil menyiram bunga dan tersenyum pada matahari?

 




[i] Pengantar Sapardi Djoko Damono pada Hujan Bulan Juni, Jakarta, Grasindo, 1994: x.
[ii] Lihat Luxemberg dkk., Pengantar Ilmu Sastra, Jakarta, Gramedia, 1994: 47.
[iii] Pengantar Sapardi Djoko Damono pada Hujan Bulan Juni, Jakarta, Grasindo, 1994: ix.
[iv] Manusia secara ragawi saja. Perlu ditekankan di sini, manusia dan bukan kemanusiaannya.
[v] Lihat Sapardi Djoko Damono, “hujan, jalak, dan daun jambu” dalam Hujan Bulan Juni, Jakarta, Grasindo, 1994: 100.
[vi] Untuk selanjutnya akan disebut mereka
[vii] Lihat Luxemberg dkk., Pengantar Ilmu Sastra, Jakarta, Gramedia, 1994: 192-193.

No comments: