Klik Bila Perlu

Tuesday, February 25, 2014

Teteh

Pada suatu hari saya makan di warung dekat kosan saya. Belum selesai saya makan, Teteh, pemilik warung ini bertanya kepada saya.

Neng, percaya nggak ginian? katanya sambil menunjukkan koran yang memuat iklan  tentang seorang ustadz yang mampu mengabulkan beberapa kehendak pasiennya dengan jalan menjual mahar. Lengkap dengan sebuah kisah sukses salah seorang pasien. Kalo saya sih tidak percaya. Takut sirik. Lagipula kalau yang didoain nggak yakin, mungkin nggak kan ampuh ya?

Saya juga berpikiran begitu.

Belum lagi maharnya yang mahal. 

Saya jadi lebih menyimak tulisan di koran itu. Memang mahal, ternyata. Berkisar antara 180 ribu sampai dengan 500 ribu untuk keinginan-keinginan tertentu, misal kelarisan, kelangsingan tubuh, gampang jodoh, susuk payudara, dan sebagainya.

Teteh berbicara itu seperti untuk dirinya sendiri. Di mata saya, itu lebih terlihat seperti keluhan. Bagaimana bisa orang ‘membuang’ uang segitu banyak hanya untuk hal-hal yang dipikir Teteh tidak masuk akal. Mungkin kalau Teteh yang dianugerahi uang nganggur sebanyak itu, dia akan memasukkan Ai, putri satu-satunya, ke TK. Ai yang 12 Agustus nanti genap berusia 4 tahun, menurut tradisi memang sudah saatnya masuk sekolah.

Persoalan ongkos, masih terpilih menjadi alasan utama. Biaya masuk dan bulanan cukup mahal, belum lagi jajannya. Sedangkan waktu adalah pertimbangan yang lain. Toh, di rumah Ai juga belajar. Salah seorang mahasiswa yang tinggal di belakang kontrakannya biasa mengajari Ai membaca. Sehabis mandi sore, Ai suka minta pake seragam pemberian tetangganya dan pergi ke tempat mahasiswa itu.

Lagian Neng, yang masuk TK juga masih bodo-bodo. Di sana jajan hungkul. 

Saya tidak tahu, apakah sikap pesimistis ini diterbitkan oleh represi atas keinginan yang tidak terwujud.
         
Kemudian Teteh berlalu dari samping saya. Meninggalkan koran. Masuk ke dapur mengikuti seorang tukang krupuk yang langsung nyelonong ke dapur, tentu saja setelah ia meninggalkan dua kantong besar berisi krupuk-krupuk di depan pintu. Dia hanya menenteng sebuntelan tas kresek hitam. Setelah tukang krupuk pergi, Teteh duduk lagi di sebelah saya dan melanjutkan pembicaraan kami.

Gerak gerik tukang krupuk yang slonong-boy dan tanpa basa basi itu membuat saya penasaran. Saya kemudian memutuskan untuk bertanya. Sekedar membuka topik.

Saudara, Teh?

Bukan, jawab Teteh, tukang krupuk. Ngajual beras ke Teteh. 

Saya hanya mengangkat alis dan dagu sedikit. Saya asli tidak mengerti. Cuma saya pikir tidak pantas mungkin kalau saya bertanya lebih lanjut. Rupanya Teteh melihat tanda tanya yang merubung di kepala saya. Kemudian dia melanjutkan penjelasannya soal tukang krupuk itu.

Ada orang beli krupuk pake beras, Neng. Trus berasnya dijual ka Teteh. 

Iseng saya mikir, mana ya yang lebih pokok, beras atau krupuk?

Yah, biasalah orang kampung, Neng. Ternyata Teteh masih punya keterangan lanjutan mengenai kejadian yang menurutku menakjubkan ini. Akan tetapi, jelasnya serupa apa kampung yang dimaksud, saya cuma bisa membayangkan.

Teteh pergi lagi. Melayani pembeli yang menyudahi sarapan paginya yang kesiangan seperti saya. Mungkin kampung yang di benaknya tadi sedikit sama dengan kampung yang pernah ia ceritakan padaku. Kampung yang ia tinggali sampai tamat SMP. Sebuah kampung yang masuk wilayah geografi Rancakalong. Dari Jatinangor hanya tertempuh dengan dua kali angkot dan ojek Rp2000.

Yah memang lumayan masuk, Neng, jelasnya dulu. Harita, eh waktu itu—Teteh tahu saya terbata-bata menggunakan bahasa sunda—tiap kepala keluarga diharuskan bayar 20.000 ribu. Nambahin dana dari desa buat ngaspal jalan. Jadinya sekarang meskipun jauh, jalannya sudah enak. 

Jalan itu memang dibutuhkan. Paling tidak oleh sebagian warga kampung Teteh yang karena tidak memiliki sawah dan pekerjaan tetap di kampungnya, mencari pekerjaan di kota sekitarnya. Kuli, koki, buruh pabrik, jualan tahu Sumedang, dan berbagai macam pekerjaan lain yang bisa mereka kerjakan. Mereka pulang sebulan sekali. Kadang dua minggu sekali. Kadang seminggu sekali. Ada juga yang pergi pagi petang kembali. Demikian juga Teteh. Keluarganya tidak mempunyai sawah yang bisa ditanami. Ladang pun tak cukup luas untuk digarap beramai-ramai. Cukup kedua orang tuanya.

Selepas SMP, tahun ‘85, Teteh langsung pergi ke Bandung. Bekerja di toko kue milik seorang Tionghoa. Kerasan dia di sana. Pekerjaannya tidak terlalu berat. Tugas utamanya hanya mencuci loyang-loyang setelah kue dikeluarkan. Sebulan pertama dia dibelikan cincin. Setiap ada pesanan dia dan rekan-rekannya, 5 lima gadis lain yang juga berasal dari kampungnya, selalu mendapat jatah.

Setelah 6 tahun, kuman mentega yang bercampur air panas mulai menyerangnya. Saya belum mencari tahu, apa benar ada kuman macam demikian. Yang pasti dia harus beristirahat sebulan. Kembalilah ia ke kampungnya. Setelah sembuh, ia memilih tidak kembali ke sana. Seorang teman yang telah menjadi koki di sebuah restoran, masih, di Bandung mengajak Teteh bekerja di tempatnya, menjadi pelayan. Kerja di restoran dia juga betah.

Harita teh, eh maksud Teteh waktu itu, suka dapet tip dari yang makan. Atau kembalian yang ditinggal begitu aja di meja. 

Akan tetapi, rupanya perjalanan karirnya tidak berhenti di sini. 3 bulan kemudian, kakak Teteh (Teteh biasa memanggilnya uwak), menawari dia mengurus satu rumah makan di Sayang. Rumah makan ini milik teman sang uwak. Biar Nyi Oo[1] belajar masak, kenang Teteh menirukan ucapan teman uwak. Teteh menerima saja tawaran itu.

Cerita punya cerita toko sebelah warung yang ditunggui Teteh membutuhkan pegawai. Uwak meminta adik istrinya untuk memenuhi pekerjaan itu. Itulah Aa, saya tidak tahu namanya, yang kemudian menjadi suami Teteh. Berawal sebelah-sebelahan, cinta menguncup. Menikahlah kedua ipar ini. Dan pasangan muda ini memutuskan untuk tinggal sementara di kampung. Aa bekerja sebagai kuli kontrak. Kadang di Bandung. kadang malah sampai Jakarta. Teteh yang berdiam di rumah, tidak tinggal diam begitu saja. Dia kerja serabutan. Mengerjaka apa saja yang bisa dia kerjakan. Menyabit rumput, membantu panen di sawah, atau apa saja. Kemudian kakak Teteh yang lain[2] memberitahu dia, bahwa ada tanah di Jatinangor yang bisa ditempati. Bukan tanah kosong. Bukan juga tempat pembuangan bayi, seperti yang terlintas sekejap dalam perkiraanku.

Harita, eh waktu itu, kursi yang Neng duduki itu pohon mangga. Serangkulan gini, Neng. Teteh berdiri dan menunjukkan seberapa besar lingkaran yang dibentuk lengannya. Bukan hanya pohon mangga. Cikal bakal warung ini adalah sebuah pemandian umum yang bersebelahan dengan tempat sampah setinggi setengah pohon mangga.

Tentu butuh banyak waktu dan tenaga untuk menyiapkan tanah itu menjadi sebuah tempat layak huni. Saya hampir mengatakannya. Tapi tidak jadi. Karena Teteh keburu melanjutkan kisah ini. Untuk bubak alas[3] pemandian itu Teteh mendatangkan 10 orang dari kampungnya. Biar cepet. Dinding bambu juga di bawah dari sana, kampungnya.

Kisah ini kemudian bertumpuk dengan cerita tentang tahun kedua yang adalah masa kejayaannya. Tertimpa lagi dengan kocaknya peristiwa gule dan sate. Kemudian terhalang oleh cerita lahirnya Ai. Kemudian blender. Kemudian ketika pertama kali Teteh pakai kerudung. Kemudian saat-saat senggang kami kalau semua laki-laki sholat jumat. Kemudian ingatan membawaku kepada bapak. Satu malam bapak pernah bilang padaku; sejak pacar pertama mbak Ira sampai pacar kesekiannya (saya sudah lupa tepatnya) yang jadi suaminya yang sekarang, Bapak tahu semua ceritanya.

Saya tidak tahu di mana letak keajaiban kalimat bapak tersebut. Akan tetapi, nada bangga yang menyeruak di antara angin-angin yang bertiup di sekitar kami malam itu membuatku turut senang mendengarnya, tanpa tahu kenapa. Tidak ada yang istimewa. Bapak saya seorang penjual pecel lele di depan sebuah ruko komplek di Tangerang. Sedangkan mbak Ira hanyalah salah satu langganannya.

Mungkin Tangerang nggak ada beda dengan Jatinangor. Mungkin juga tidak. Tapi saya kemudian menemukan jawaban atau penjelasan atau semacamnya atas perasaan saya malam itu. Warung ini tampak biasa saja. Sangat biasa malah untuk standar tempat makan masa kini di Jatinangor. Meskipun letaknya di pinggir jalan, dia terhalang gapura jembatan. Itu pun masih ditambah gerobak gorengan di depan pintu. Menunya bisa ditebak. Tak ada jus di sana. Dindingnya separuh bambu separuh kaca yang dicat sedikit bawahnya. Bukan dalam rangka eksotis-eksotisan. Melainkan apa adanya. Lantainya bukan ubin. Hanya semen yang beberapa bagiannya sudah retak akan tetapi kelihatan dirawat sehingga nampak mengkilap. Hiasannya dindingnya kalender dan busur lengkap dengan beberapa anak panah. Selain kursi-kursi biru tanpa sandaran, ada dua kursi panjang, dan empat kursi kayu dengan cat putih yang mulai pudar. Di meja selalu stand by krupuk dan Galamedia. Saya baru sadar, saya suka makan di warung Teteh ini pastilah bukan semata karena murah, dekat dengan kosan saya.





________________________________________
[1] Nyi Oo adalah panggilan Teteh. Namanya sendiri Omih.
[2] Teteh lima bersaudara, tiga laki-laki dua perempuan.
[3] Tentu ini istilah saya. Meskipun mungkin ada juga dalam bahasa Sunda.

No comments: