La Rochelle, 5
Januari 2009
…
Sekarang sudah
memasuki bulan keempat saya tinggal di La Rochelle: sebuah kota kecil yang
terletak di sebelah barat Perancis ini. Sebuah kota pantai yang hanya ramai di
musim panas. Tapi jangan membayangkan pantai seperti di indonesia. Pantai di
sini cukup dingin. Mataharinya sangat pemalu untuk betul-betul menghangatkan
kami.
La Rochelle memang
bukan Paris. Tidak ada metro, trem, dan lalu lintas yang padat. Bukan pula
tempat di mana lahir banyak pemikir besar perancis. Di sini hanya ada satu
unversitas. Tapi, suasana yang tenang di sini cukup menyenangkan; cukup mebuat
kerasan. apalagi kalau kita memang tidak terbiasa hidup di kota besar. tapi
bagaimanapun di tahun 1932, Simenon -penulis terkenal itu- memilih untuk
tinggal di sini. memang bukan betul-betul di La Rochelle, tapi di La
Richadiére, sebuah kota yang dekat sini. meskipun demikian, banyak
cerita-ceritanya yang berlatar kota pelabuahan ini. di Café de La Paix,
sebuah cafe yang terletak di pusat kota, dia banyak menghabiskan waktunya.
duduk, membaca, ngobrol, dan tentu saja menulis. selain dia, masih ada penulis
lain: Pierre Loti. seorang penjelajah di abad ke-19, yang banyak menulis
petualanngannya di negeri-negeri timur. sayang memang, kedua penulis tadi
kurang dikenal di Indonesia. untuk Simenon, mungkin lebih beruntung. terjemahan
karyanya sudah mulai bisa didapat di toko-toko buku di Indonesia.
duduk di sebuah cafe
tempat seorang penulis besar biasa bekerja memang lain rasanya. dan di sanalah
belakangan saya suka menghabiskan waktu. lebih hangat. sebelum udara menjadi
terllalu dingin seperti sekarang ini, saya suka menghabiskan senja di tepi
pantai. menikmati laut atlantik yang dingin.
bagaimanapun itulah
tempat tinggalku sekarang. apartemen, kampus, perpus, dan sesekali jalan-jalan
atau nongkrong di cafe. itulah keseharian yang saya jalani. terkadang hal itu
terasa membosankan. apalagi di kota ini tidak terlalu banyak penduduknya.
mungkin karena saya tidak bisa melihat keseharian lebih dekat, sehingga tidak
bisa mengamati perubahan-perubahan yang sebetulnya menarik untuk diceritakan.
atau bisa jadi karena saya terlallu bahagia, jadi semua hal menarik itu luput
dari perhatian.
teman-teman yang
baik,
mudah-mudahan kalian
tidak bosan membaca surat ini. sejak pertama menginjakan kaki di eropa, hanya
satu yang terpikir waktu itu: bagaimana sesegera mungkin mengunjungi
negara-negara lain. belajar iya. tapi jalan-jalan juga penting. bagaimanapun
saya masih haus dengan pengalaman. saya masih ingin menemukan hal-hal baru di
luar sana. itulah kenapa sejak awal saya sudah langsung menyusun rencana untuk
mengisi liburan akhir tahun yang sudah berakhir ini. Paris, Bruxelles, Bruges,
Amsterdam, Frankfurt, Berlin. Itulah kota-kota yang menurut saya penting untuk
dikunjungi. Kecuali Bruges dan Frankfurt, semuanya adalah ibu kota
negara-negara di Eropa. berangkat dari asumsi bahwa ibu kota merupakan jantung
peradaban sebuah negara, saya pun berziarah. setidaknya dengan mengunjungi
kota-kota tersebut, saya merasa sudah melihat keseluruhan sebuah negara. sebuah
penarikan kesimpulan yang sangat terburu-buru tentu saja.
adapun Bruges saya
ziarahi lebih karena saya terpesona oleh film in bruges yang disutradarai oleh
Martin McDonagh. sebuah komedi gelap, yang merupakan film terakhir yang saya
tonton sebelum berangkat. dan saya benar-benar terpesona dengan situasi bruges
yang betul-betul sepi. sebuah kota yang di kelilingi oleh dua sungai, yang
kalau dilihat dari udara membentuk sebuah cincin. sementara itu, frankfurt saya
pilih, hanya untuk memenuhi rasa penasaran saja. ingin tahu rumah tempat Goethe
lahir, dan sekolah di mana perdebatan-perdebat an tentang ilmu sosial banyak
terjadi.
seperti mimpi. itulah
yang saya rasakan. kota-kota yang sebelumnya hanya saya lihat di film atau di
dalam novel-novel, kemarin benar-benar saya kunjungi. saya benar-benar berada
di tengah kesibukan kota-kota tersebut. tapi musim dingin memang suram. langit
selalu pucat. itulah kenapa sepanjang jalan di Berlin saya tidak menemukan
banyak seniman jalanan. setidaknya para pengamenlah yang ingin saya jumpai.
tapi hanya satu yang saya jumpai: lelaki tua yang mengamen dengan akordeon di
tepi sungai. lumayan, cukup menghibur.
demikianlah, saya
menutup tahun ini dengan berziarah ke kota-kota tersebut. awal yang kurang baik
di tahun 2009, dipungkas dengan pengalaman menyenangkan menjelajahi daratan
Eropa. hari pertama di tahun ini saya habiskan di Berlin.
…
Salam hangat
Gani


No comments:
Post a Comment