Klik Bila Perlu

Thursday, February 27, 2014

Surat dari La Rochelle


La Rochelle, 5 Januari 2009


Sekarang sudah memasuki bulan keempat saya tinggal di La Rochelle: sebuah kota kecil yang terletak di sebelah barat Perancis ini. Sebuah kota pantai yang hanya ramai di musim panas. Tapi jangan membayangkan pantai seperti di indonesia. Pantai di sini cukup dingin. Mataharinya sangat pemalu untuk betul-betul menghangatkan kami.

La Rochelle memang bukan Paris. Tidak ada metro, trem, dan lalu lintas yang padat. Bukan pula tempat di mana lahir banyak pemikir besar perancis. Di sini hanya ada satu unversitas. Tapi, suasana yang tenang di sini cukup menyenangkan; cukup mebuat kerasan. apalagi kalau kita memang tidak terbiasa hidup di kota besar. tapi bagaimanapun di tahun 1932, Simenon -penulis terkenal itu- memilih untuk tinggal di sini. memang bukan betul-betul di La Rochelle, tapi di La Richadiére, sebuah kota yang dekat sini. meskipun demikian, banyak cerita-ceritanya yang berlatar kota pelabuahan ini. di  Café de La Paix, sebuah cafe yang terletak di pusat kota, dia banyak menghabiskan waktunya. duduk, membaca, ngobrol, dan tentu saja menulis. selain dia, masih ada penulis lain: Pierre Loti. seorang penjelajah di abad ke-19, yang banyak menulis petualanngannya di negeri-negeri timur. sayang memang, kedua penulis tadi kurang dikenal di Indonesia. untuk Simenon, mungkin lebih beruntung. terjemahan karyanya sudah mulai bisa didapat di toko-toko buku di Indonesia.

duduk di sebuah cafe tempat seorang penulis besar biasa bekerja memang lain rasanya. dan di sanalah belakangan saya suka menghabiskan waktu. lebih hangat. sebelum udara menjadi terllalu dingin seperti sekarang ini, saya suka menghabiskan senja di tepi pantai. menikmati laut atlantik yang dingin.

bagaimanapun itulah tempat tinggalku sekarang. apartemen, kampus, perpus, dan sesekali jalan-jalan atau nongkrong di cafe. itulah keseharian yang saya jalani. terkadang hal itu terasa membosankan. apalagi di kota ini tidak terlalu banyak penduduknya. mungkin karena saya tidak bisa melihat keseharian lebih dekat, sehingga tidak bisa mengamati perubahan-perubahan yang sebetulnya menarik untuk diceritakan. atau bisa jadi karena saya terlallu bahagia, jadi semua hal menarik itu luput dari perhatian.
La Rochelle

teman-teman yang baik,

mudah-mudahan kalian tidak bosan membaca surat ini. sejak pertama menginjakan kaki di eropa, hanya satu yang terpikir waktu itu: bagaimana sesegera mungkin mengunjungi negara-negara lain. belajar iya. tapi jalan-jalan juga penting. bagaimanapun saya masih haus dengan pengalaman. saya masih ingin menemukan hal-hal baru di luar sana. itulah kenapa sejak awal saya sudah langsung menyusun rencana untuk mengisi liburan akhir tahun yang sudah berakhir ini. Paris, Bruxelles, Bruges, Amsterdam, Frankfurt, Berlin. Itulah kota-kota yang menurut saya penting untuk dikunjungi. Kecuali Bruges dan Frankfurt, semuanya adalah ibu kota negara-negara di Eropa. berangkat dari asumsi bahwa ibu kota merupakan jantung peradaban sebuah negara, saya pun berziarah. setidaknya dengan mengunjungi kota-kota tersebut, saya merasa sudah melihat keseluruhan sebuah negara. sebuah penarikan kesimpulan yang sangat terburu-buru tentu saja.

adapun Bruges saya ziarahi lebih karena saya terpesona oleh film in bruges yang disutradarai oleh Martin McDonagh. sebuah komedi gelap, yang merupakan film terakhir yang saya tonton sebelum berangkat. dan saya benar-benar terpesona dengan situasi bruges yang betul-betul sepi. sebuah kota yang di kelilingi oleh dua sungai, yang kalau dilihat dari udara membentuk sebuah cincin. sementara itu, frankfurt saya pilih, hanya untuk memenuhi rasa penasaran saja. ingin tahu rumah tempat Goethe lahir, dan sekolah di mana perdebatan-perdebat an tentang ilmu sosial banyak terjadi.

seperti mimpi. itulah yang saya rasakan. kota-kota yang sebelumnya hanya saya lihat di film atau di dalam novel-novel, kemarin benar-benar saya kunjungi. saya benar-benar berada di tengah kesibukan kota-kota tersebut. tapi musim dingin memang suram. langit selalu pucat. itulah kenapa sepanjang jalan di Berlin saya tidak menemukan banyak seniman jalanan. setidaknya para pengamenlah yang ingin saya jumpai. tapi hanya satu yang saya jumpai: lelaki tua yang mengamen dengan akordeon di tepi sungai. lumayan, cukup menghibur.

demikianlah, saya menutup tahun ini dengan berziarah ke kota-kota tersebut. awal yang kurang baik di tahun 2009, dipungkas dengan pengalaman menyenangkan menjelajahi daratan Eropa. hari pertama di tahun ini saya habiskan di Berlin.

Salam hangat

Gani


No comments: