Klik Bila Perlu

Sunday, February 23, 2014

Sandiwara Kelas Menengah dalam Cocktail Party

Pada Kata Pengantar cetakan kedua kumpulan puisinya yang berjudul Mimpi dan Pretensi (2000), pihak Balai Pustaka, selaku penerbit mengatakan bahwa Toety Heraty adalah salah seorang penyair wanita Indonesia yang terkemuka. Sajak-sajaknya punya kekhasan tersendiri dan, yang paling menonjol, adalah ironi-ironinya. Pemahamannya pada dunia wanita merupakan salah satu ilham dari sajak-sajaknya. Saya pikir, pernyataan ini bukan semata muncul karena selaku penerbit, Balai Pustaka, berkewajiban mempromosikan ‘barang dagangannya’. Lebih dari itu. Dengan pemahamannya akan dunia wanita, Toety Heraty menulis sajaknya tidak hanya tentang kekecewaan dan kegagalan dalam cinta dan perkawinan saja. Seperti halnya dia juga tidak memposisikan dirinya sebagai ‘pengamat’ dan berdiri di luar lingkaran, melainkan ‘bagian dari’ dunia wanita tersebut.
Setidaknya dari salah satu sajak yang berjudul “Cocktail Party”, saya akan menguraikan bagaimana hubungan si pengarang dengan tokohnya dan hubungan si tokoh aku sendiri dengan lingkungan sekitarnya. Dari pembacaan close reading, dan pembedahan dengan menggunakan pendekatan semiotik, saya akan membangun uraian tersebut melalui tanda-tanda (atau bagian-bagian sajak tersebut yang saya asumsikan sebagai tanda).

Tiga Langkah Pierce

                Menurut Zoest (1996), dalam tipologi lambang yang dipergunakan Pierce, lambang itu disebut rheme bilamana lambang itu terhadap interpretannya adalah sebuah first (1996:89). Kata, atau mungkin huruf, itu baru akan mempunyai makna apabila dia bersanding dengan kata atau huruf yang lain. Kata cocktail, atau kata party, akan berbeda makna apabila kedua kata tersebut disatukan, cocktail party. Sebenarnya dari dua kata ini saja, saya sampai pada satu lingkungan tempat party tersebut biasa diselenggarakan, yakni kelas menengah ke atas. Kata kelas yang kemudian muncul dan mengidentifikasikan pada satu kelompok social tertentu ini tentu saja tidak lahir begitu saja.
                Selanjutnya, setelah judul, saya menandai (pada tahap ini, saya sebatas mencurigai hal tersebut sebagai tanda) beberapa kata dalam sajak yang sepertinya mengarah pada makna (tema) tertentu; sanggul, garis alis, gelas anggur, arena, saingan, dan keasingan yang mempesona. Dari rheme-rheme unsur first ini, saya kemudian melangkah pada tangga kedua Pierce. Tipe lambang yang kedua ini disebut dicentsign atau dicisign. Kadang tanda ini disebut preposition. Selain kata, gerak badan juga merupakan preposition. Ia bisa dikonfrotasikan dengan kenyataan dan bisa dibuktikan dengan tes ekstern.
                /meluruskan kain baju dahulu/ adalah baris pertama sajak ini. Disusul kemudian /meletakkan lekat sanggul rapi/. Dari baris pertama dan kedua saya mendeteksi bahwa adalah sebuah kebutuhan untuk menunjukkan penampilan yang sempurna. Siapa atau untuk apanya, belum jelas benar.
                Baris keempat menjadi mengejutkan untuk saya /pertarungan dapat dimulai/. Terbit pertanyaan, pertarungan apakah dengan penampilan serapi itu? Tentu saja, kata pertarungan di sini tidak berlaku denotatif. Sampai habis bait pertama tak nampak titik terang dari, baik kelanjutan “Cocktail Party” maupun orang yang sibuk meluruskan kain baju dahulu dan melekatkan sanggulnya rapi-rapi itu. Demikian juga pada bait kedua. Yang ada pada bagian-bagian ini adalah sebuah perseteruan yang sedemikian peliknya. Pilihan kata-katanya; berlomba dengan waktu, dengan kebosanan, pertaruhan ilusi, seutas benang dalam taufan, amuk badai antara insan, perasaan yang dikebiri, tanah tandus kering, angin liar, dan cambukan halilintar. Semua kata di atas mengacu pada keadaan yang tidak menyenangkan, keterasingan, dan bencana kesedihan yang tiada berkesudahan. Dua bait yang menunjukkan intensitas tinggi pada hal di atas adalah terutama pada bait seutas benang dalam taufan. Pada bait tersebut nampak kontras sekali antara benang yang hanya seutas namun harus survive dalam taufan. Metafor ini nampak hiperbola dan mengerikan. Bait selanjutnya /amuk badai antara insan/ di samping memberi sedikit pencerahan juga melahirkan pertanyaan baru. Titik terangnya, amuk badai ini sepadan dengan dengan kata pertarungan di atas. Meskipun belum jelas juga, pertarungan macam apa. Titik terang yang lain kata antara insan menunjukkan ada lebih dari satu orang (hal ini berhubungan dengan kata tarung di atas. Kata ini tidak mungkin dilakukan oleh seorang saja, harus lebih dari satu orang) namun siapa orang-orang ini masih menjadi pertanyaan.
Penulis menyimpan kelanjutan jejak subjek ini pada bait ketiga. /perempuan seram yang kuhadapi, dengan/ /garis alis dan cemooh tajam/ /tertawa lantang/ Lagi-lagi, deskripsi tentang perempuan ini bisa saja hanya sebuah perumpamaan karena konteks dari sajak ini adalah party dan tokoh aku yang ternyata adalah si pencerita (dari mana diketahui bahwa dialah si pencerita) ketika pada bait selanjutnya dia menggunakan pronomina aku. /aku terjebak/
Hanya sampai pada baris ini, sesungguhnya, saya mulai dapat masuk pada tahap ketiga Pierce. Pada tahap ini kata law (yang diindonesiakan menjadi hukum) atau leading principle ‘nilai moral’ adalah aturan main yang harus dipenuhi.  Setelah mengetahui siapa pencerita dan posisinya dalam keadaan tertentu, seperti yang diceritakan sajak tersebut, saya lantas dapat menangkap inti konflik sesungguhnya.



No comments: