Pada Kata Pengantar cetakan kedua kumpulan
puisinya yang berjudul Mimpi dan Pretensi (2000), pihak Balai Pustaka,
selaku penerbit mengatakan bahwa Toety Heraty adalah salah seorang penyair
wanita Indonesia yang terkemuka. Sajak-sajaknya punya kekhasan tersendiri
dan, yang paling menonjol, adalah ironi-ironinya. Pemahamannya pada dunia wanita
merupakan salah satu ilham dari sajak-sajaknya. Saya pikir, pernyataan ini
bukan semata muncul karena selaku penerbit, Balai Pustaka, berkewajiban
mempromosikan ‘barang dagangannya’. Lebih dari itu. Dengan pemahamannya akan
dunia wanita, Toety Heraty menulis sajaknya tidak hanya tentang kekecewaan
dan kegagalan dalam cinta dan perkawinan saja. Seperti halnya dia juga
tidak memposisikan dirinya sebagai ‘pengamat’ dan berdiri di luar lingkaran,
melainkan ‘bagian dari’ dunia wanita tersebut.
Setidaknya dari salah satu sajak yang
berjudul “Cocktail Party”, saya akan menguraikan bagaimana hubungan si
pengarang dengan tokohnya dan hubungan si tokoh aku sendiri dengan lingkungan
sekitarnya. Dari pembacaan close reading, dan pembedahan dengan
menggunakan pendekatan semiotik, saya akan membangun uraian tersebut melalui
tanda-tanda (atau bagian-bagian sajak tersebut yang saya asumsikan sebagai
tanda).
Tiga Langkah
Pierce
Menurut
Zoest (1996), dalam tipologi lambang yang dipergunakan Pierce, lambang itu
disebut rheme bilamana lambang itu terhadap interpretannya adalah sebuah
first (1996:89). Kata, atau mungkin huruf, itu baru akan mempunyai makna
apabila dia bersanding dengan kata atau huruf yang lain. Kata cocktail,
atau kata party, akan berbeda makna apabila kedua kata tersebut
disatukan, cocktail party. Sebenarnya dari dua kata ini saja, saya
sampai pada satu lingkungan tempat party tersebut biasa diselenggarakan,
yakni kelas menengah ke atas. Kata kelas yang kemudian muncul dan
mengidentifikasikan pada satu kelompok social tertentu ini tentu saja tidak
lahir begitu saja.
Selanjutnya, setelah
judul, saya menandai (pada tahap ini, saya sebatas mencurigai hal tersebut
sebagai tanda) beberapa kata dalam sajak yang sepertinya mengarah pada makna
(tema) tertentu; sanggul, garis alis, gelas anggur, arena, saingan, dan
keasingan yang mempesona. Dari rheme-rheme unsur first
ini, saya kemudian melangkah pada tangga kedua Pierce. Tipe lambang yang kedua
ini disebut dicentsign atau dicisign. Kadang tanda ini disebut preposition.
Selain kata, gerak badan juga merupakan preposition. Ia bisa
dikonfrotasikan dengan kenyataan dan bisa dibuktikan dengan tes ekstern.
/meluruskan
kain baju dahulu/ adalah baris pertama sajak ini. Disusul kemudian /meletakkan
lekat sanggul rapi/. Dari baris pertama dan kedua saya mendeteksi bahwa adalah
sebuah kebutuhan untuk menunjukkan penampilan yang sempurna. Siapa atau untuk
apanya, belum jelas benar.
Baris keempat menjadi
mengejutkan untuk saya /pertarungan dapat dimulai/. Terbit pertanyaan, pertarungan
apakah dengan penampilan serapi itu? Tentu saja, kata pertarungan di sini tidak
berlaku denotatif. Sampai habis bait pertama tak nampak titik terang dari, baik
kelanjutan “Cocktail Party” maupun orang yang sibuk meluruskan kain baju dahulu
dan melekatkan sanggulnya rapi-rapi itu. Demikian juga pada bait kedua. Yang
ada pada bagian-bagian ini adalah sebuah perseteruan yang sedemikian peliknya.
Pilihan kata-katanya; berlomba dengan waktu, dengan kebosanan, pertaruhan
ilusi, seutas benang dalam taufan, amuk badai antara insan, perasaan yang
dikebiri, tanah tandus kering, angin liar, dan cambukan halilintar. Semua kata
di atas mengacu pada keadaan yang tidak menyenangkan, keterasingan, dan bencana
kesedihan yang tiada berkesudahan. Dua bait yang menunjukkan intensitas tinggi
pada hal di atas adalah terutama pada bait seutas benang dalam taufan.
Pada bait tersebut nampak kontras sekali antara benang yang hanya seutas namun
harus survive dalam taufan. Metafor ini nampak hiperbola dan mengerikan.
Bait selanjutnya /amuk badai antara insan/ di samping memberi sedikit
pencerahan juga melahirkan pertanyaan baru. Titik terangnya, amuk badai ini
sepadan dengan dengan kata pertarungan di atas. Meskipun belum jelas
juga, pertarungan macam apa. Titik terang yang lain kata antara insan
menunjukkan ada lebih dari satu orang (hal ini berhubungan dengan kata tarung
di atas. Kata ini tidak mungkin dilakukan oleh seorang saja, harus lebih dari
satu orang) namun siapa orang-orang ini masih menjadi pertanyaan.
Penulis menyimpan kelanjutan jejak subjek ini
pada bait ketiga. /perempuan seram yang kuhadapi, dengan/ /garis alis dan
cemooh tajam/ /tertawa lantang/ Lagi-lagi, deskripsi tentang perempuan ini bisa
saja hanya sebuah perumpamaan karena konteks dari sajak ini adalah party
dan tokoh aku yang ternyata adalah si pencerita (dari mana diketahui bahwa
dialah si pencerita) ketika pada bait selanjutnya dia menggunakan pronomina
aku. /aku terjebak/
Hanya sampai pada baris ini, sesungguhnya,
saya mulai dapat masuk pada tahap ketiga Pierce. Pada tahap ini kata law
(yang diindonesiakan menjadi hukum) atau leading principle ‘nilai moral’
adalah aturan main yang harus dipenuhi.
Setelah mengetahui siapa pencerita dan posisinya dalam keadaan tertentu,
seperti yang diceritakan sajak tersebut, saya lantas dapat menangkap inti
konflik sesungguhnya.

No comments:
Post a Comment